Bunda, Yuk Kenali 5 Manfaat Utama Bermain bagi si Kecil

Bunda, Yuk Kenali 5 Manfaat Utama Bermain bagi si Kecil

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 19 Okt 2015 17:30 WIB
Bunda, Yuk Kenali 5 Manfaat Utama Bermain bagi si Kecil
Foto: thinkstock
Jakarta - Anak-anak memang sedang masanya doyan bermain. Meski demikan, bukan berarti tidak ada manfaat yang bisa didapat si kecil dari kegiatan bermainnya lho. Contohnya, saat anak bermain rumah-rumahan, bertarung dengan naga khayalan atau mengorganisir permainan hopscotch, mereka ternyata sedang mengembangkan keterampilan hidup yang penting.

Bahkan, ketika melakukan permainan seperti itu, anak juga sedang mempersiapkan otak mereka untuk menghadapi tantangan saat dewasa nanti. Sayangnya, para ahli perkembangan anak menyebut waktu bermain bebas untuk anak-anak telah menyusut selama tiga dekade terakhir.

Walaupun begitu, sebagai orang tua sudah seharusnya Anda bisa menyediakan sarana dan prasarana untuk bermain si kecil. Sebab, ada lima manfaat bermain yang bisa didapatkan anak, seperti dikutip dari Live Science, Senin (19/10/15) berikut.

1. Anak berperilaku lebih baik

Foto: thinkstock
Menurut sebuah studi tahun 2009 dalam jurnal Pediatrics, anak-anak berperilaku lebih baik di kelas ketika mereka memiliki kesempatan untuk meluangkan waktu istirahat di tempat bermain pada siang hari.

Peneliti membandingkan perilaku anak berumur 8-9 tahun di sekolah sesuai dengan penilaian guru mereka, dengan dan tanpa jam istirahat. Diketahui, anak-anak yang memiliki lebih dari 15 menit sehari istirahat berperilaku baik selama waktu akademis.

Sayangnya, lebih dari 30 persen di antara 10.000 anak-anak dalam penelitian ini tidak memiliki waktu istirahat atau memiliki waktu istirahat kurang dari 15 menit setiap harinya.

2. Mengajari kerja tim

Foto: thinkstock
Bermain mengajarkan anak-anak untuk bermain secara baik. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini pada tahun tahun 2007 mengungkapkan bahwa bermain bebas dan bermain dengan dipandu orang dewasa dapat membantu anak-anak prasekolah belajar kesadaran akan perasaan orang lain.

Bermain juga mengajarkan anak-anak untuk mengatur emosi mereka sendiri.

"Anda bisa mencoba hal-hal tanpa konsekuensi. Bermain juga memungkinkan Anda untuk memakai topi yang berbeda, untuk menguasai aturan-aturan sosial," ujar Kathy Hirsch-Pasek, seorang psikolog perkembangan anak di Temple University.

3. Ajak anak bergerak

Foto: thinkstock
Memanjat pohon, foursquare dan bahkan permainan berdandan dapat membuat anak-anak bergerak lebih dibanding menonton acara televisi atau bermain komputer. The American Heart Association merekomendasikan anak-anak yang usianya di atas 2 tahun untuk terlibat dalam aktivitas fisik setidaknya satu jam sehari.

Selain itu, diketahui juga anak-anak yang aktif nantinya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang aktif, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan momok lain dari gaya hidup.

Baca juga: Tak Melulu Negatif, Ini Manfaat Positif Video Games Untuk Anak

4. Meningkatkan pembelajaran

Foto: thinkstock
Sebuah studi dalam Journal of Health School menemukan bahwa anak yang bisa lulus tes aktivitas tes fisik, memiliki kemungkinan lulus tes akademik lebih besar.

"Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di kelas tanpa henti mungkin bukanlah cara terbaik untuk meningkatkan nilai tes dan pembelajaran," ujar Hirsch-Pasek.

"Anak-anak belajar untuk menghitung ketika mereka sedang melakukan hopscotch. Mereka belajar tentang angka ketika mereka sedang bermain stickball, dan saya percaya mereka tahu tim mana yang berada di depan. Mereka bercerita di taman bermain, dan mereka mulai aktif," katanya.

5. Bermain itu menyenangkan

Foto: thinkstock
Terus belajar dan tidak bermain ternyata dapat membuat anak menjadi bosan. Bermain adalah keadaan alami di masa kanak-kanak, bahkan Hirsch-Pasek mengatakan bahwa binatang non-mamalia pun mempunyai waktu untuk bermain.

Seorang biopsikologi dari University of Tennessee, Gordon Burghardt, mengungkapkan kepada majalah Scientist pada tahun 2010 bahwa dia bahkan mengamati kura-kura bermain.

Sementara psikolog anak Anna Surti Ariani, M.Si, bermain merupakan proses belajar secara kinestetik pada anak. Baik bermain dengan orang yang lebih tua ataupun bermain dengan teman sebayanya itu sama pentingnya.

"Jika anak bermain dengan orang yang lebih tua, maka anak akan belajar mengikuti dan tunduk pada aturan. Sedangkan jika bermain dengan anak yang lebih muda, maka anak akan belajar mengalah dan belajar memimpin," tutur wanita yang akrab disapa Nina ini.

Baca juga: Bagi Anak-anak, Bermain Sama Pentingnya dengan Belajar

Halaman 2 dari 6
Menurut sebuah studi tahun 2009 dalam jurnal Pediatrics, anak-anak berperilaku lebih baik di kelas ketika mereka memiliki kesempatan untuk meluangkan waktu istirahat di tempat bermain pada siang hari.

Peneliti membandingkan perilaku anak berumur 8-9 tahun di sekolah sesuai dengan penilaian guru mereka, dengan dan tanpa jam istirahat. Diketahui, anak-anak yang memiliki lebih dari 15 menit sehari istirahat berperilaku baik selama waktu akademis.

Sayangnya, lebih dari 30 persen di antara 10.000 anak-anak dalam penelitian ini tidak memiliki waktu istirahat atau memiliki waktu istirahat kurang dari 15 menit setiap harinya.

Bermain mengajarkan anak-anak untuk bermain secara baik. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini pada tahun tahun 2007 mengungkapkan bahwa bermain bebas dan bermain dengan dipandu orang dewasa dapat membantu anak-anak prasekolah belajar kesadaran akan perasaan orang lain.

Bermain juga mengajarkan anak-anak untuk mengatur emosi mereka sendiri.

"Anda bisa mencoba hal-hal tanpa konsekuensi. Bermain juga memungkinkan Anda untuk memakai topi yang berbeda, untuk menguasai aturan-aturan sosial," ujar Kathy Hirsch-Pasek, seorang psikolog perkembangan anak di Temple University.

Memanjat pohon, foursquare dan bahkan permainan berdandan dapat membuat anak-anak bergerak lebih dibanding menonton acara televisi atau bermain komputer. The American Heart Association merekomendasikan anak-anak yang usianya di atas 2 tahun untuk terlibat dalam aktivitas fisik setidaknya satu jam sehari.

Selain itu, diketahui juga anak-anak yang aktif nantinya akan tumbuh menjadi orang dewasa yang aktif, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung dan momok lain dari gaya hidup.

Baca juga: Tak Melulu Negatif, Ini Manfaat Positif Video Games Untuk Anak

Sebuah studi dalam Journal of Health School menemukan bahwa anak yang bisa lulus tes aktivitas tes fisik, memiliki kemungkinan lulus tes akademik lebih besar.

"Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan di kelas tanpa henti mungkin bukanlah cara terbaik untuk meningkatkan nilai tes dan pembelajaran," ujar Hirsch-Pasek.

"Anak-anak belajar untuk menghitung ketika mereka sedang melakukan hopscotch. Mereka belajar tentang angka ketika mereka sedang bermain stickball, dan saya percaya mereka tahu tim mana yang berada di depan. Mereka bercerita di taman bermain, dan mereka mulai aktif," katanya.

Terus belajar dan tidak bermain ternyata dapat membuat anak menjadi bosan. Bermain adalah keadaan alami di masa kanak-kanak, bahkan Hirsch-Pasek mengatakan bahwa binatang non-mamalia pun mempunyai waktu untuk bermain.

Seorang biopsikologi dari University of Tennessee, Gordon Burghardt, mengungkapkan kepada majalah Scientist pada tahun 2010 bahwa dia bahkan mengamati kura-kura bermain.

Sementara psikolog anak Anna Surti Ariani, M.Si, bermain merupakan proses belajar secara kinestetik pada anak. Baik bermain dengan orang yang lebih tua ataupun bermain dengan teman sebayanya itu sama pentingnya.

"Jika anak bermain dengan orang yang lebih tua, maka anak akan belajar mengikuti dan tunduk pada aturan. Sedangkan jika bermain dengan anak yang lebih muda, maka anak akan belajar mengalah dan belajar memimpin," tutur wanita yang akrab disapa Nina ini.

Baca juga: Bagi Anak-anak, Bermain Sama Pentingnya dengan Belajar

(rdn/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads