Caranya, letakkan satu buah kismis di dalam gelas atau cangkir yang terbalik. Kemudian bilang kepada si anak bahwa ia tidak boleh memakannya sampai diberi izin.
Tes yang sama juga bisa dilakukan dengan menggunakan makanan kesukaan anak-anak yang lain seperti cokelat, kurma, marshmallow atau permen.
Bagi orang dewasa, tantangan ini mungkin terasa begitu mudah. Tetapi lain halnya dengan anak-anak. Faktanya, banyak anak yang menganggap tes menahan diri itu sangat sulit. Jangan heran jika banyak di antara mereka yang gagal dalam tes ini.
Baca juga: Ingat Ya Bunda, Tiap Anak Punya Gaya Belajar yang Berbeda Lho
Padahal menurut penelitian terbaru dari University of Warwick Medical School, reaksi si anak akan menentukan seberapa cerdas mereka kelak, atau setidaknya pada umur 8 tahun.
Mereka yang dapat menahan diri untuk tidak mengambil camilan diartikan sebagai anak yang memiliki kedisplinan yang tinggi. Menurut prediksi peneliti, anak yang disiplin akan memiliki IQ tujuh poin lebih tinggi ketimbang anak yang tidak bisa menahan dirinya. Tes yang sama juga memperlihatkan seberapa besar kapasitas belajar si anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam studi follow-up-nya juga terungkap, mereka yang tidak mengendalikan dirinya saat kecil juga tidak memperlihatkan performa akademik yang memuaskan di usia tujuh tahun. Kemudian saat partisipan berumur 8 tahun, peneliti memastikannya dengan melakukan evaluasi secara menyeluruh, melibatkan psikolog dan dokter anak.
Dari situ disimpulkan, mereka yang gagal dalam tes kismis cenderung kesulitan untuk memperhatikan sesuatu (poor attention skills) dan juga memiliki capaian akademis yang rendah di usia 8 tahun.
Baca juga: Genetik Menentukan Kepintaran Anak, Benarkah?
"Selain mudah dilakukan, permainan ini terbilang efektif untuk mengukur kemampuan pengendalian diri pada anak hanya dalam waktu lima menit saja, bahkan kita bisa mengidentifikasi apakah anak berisiko mengalami gangguan belajar dengan metode ini," ungkap peneliti, Prof Dieter Wolke seperti dikutip dari Telegraph, Senin (23/11/2015).
Namun Wolke mengingatkan, meski tes demikian bisa dilakukan dimanapun, hasilnya mungkin berbeda jika orang tua sendiri yang mengetes.
Apalagi bila anak tidak biasa memberikan respons langsung terhadap sesuatu, sehingga orang tua atau pengetes mungkin harus memberikan sedikit dorongan atau rela menunggu lebih lama untuk melihat respons si bocah. (lll/vit)










































