"Sebaiknya anak melakukan sesuatu sesuai kemampuannya. Put trust on them. Karena itu mengajarkan anak memiliki target dan timeline itu penting juga lho," kata psikolog anak dan remaja dari Raqqi Human and Development, Ratih Zulhaqqi, beberapa waktu lalu.
Jadi misalnya saat kenaikan kelas, anak mungkin naik kelas meskipun nilainya mepet. Menurut Ratih, sebaiknya orang tua tidak lantas berkata "Terserah nilai kamu berapa yang penting naik kelas". Karena ucapan seperti itu kurang memotivasi anak untuk lebih menguasai materi pelajaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Hilangkan Kemewahan Bakal Bikin Anak Lebih 'Tahan Banting'?
Dituturkan Ratih, di setiap fase, anak ada baiknya ditanya apa target yang ingin dicapai. Contohnya pada saat tahun ajaran baru, anak ditanya apa targetnya. Mungkin karena belum menguasai beberapa materi pelajaran dengan baik, anak menargetkan untuk bisa menguasainya.
"Orang tua membantu, misalnya dengan ikut les tertentu. Tidak cuma terkait akademis, menguasai kemampuan lain juga bisa jadi target. Misalnya ingin bisa menari, maka upayanya dengan ikut les tari dan sebagainya," sambung Ratih.
Jika anak terbiasa tanpa target, apalagi apresiasi orang tua juga kurang, bisa jadi anak akan memiliki rasa percaya diri yang kurang di kemudian hari. Ini karena anak tidak memiliki kemampuan sebaik anak-anak lainnya.
"Tanpa target, jadi kurang tertantang. Biasanya memang mengakibatkan kurang semangat. Tapi ingat target dan timeline harus sesuai kemampuan anak. Kalau tidak anak sendiri yang akan merasa tertekan. Ketika mereka tidak bisa memenuhi target yang tinggi akan terpuruk. Orang tua bisa memberi saran-saran saat anak membuat timeline," jelas Ratih.
Baca juga: Ketika Anak Tak Bisa Menerima Kekalahan, Begini Menyikapinya (vit/lll)











































