Pemimpin studi, William E Pelham dari Florida International University mengatakan studi ini adalah yang pertama mengevaluasi efek urutan terapi yakni obat-obatan dan perilaku yang diberikan kepada anak hiperaktif. Dari hasil studinya, Pelham mengatakan anak-anak yang pertama kali mendapat terapi perilaku mengalami perbaikan perilaku yang lebih signifikan.
Untuk studi ini, Pelham dan timnya melibatkan 146 anak yang didiagnosis ADHD di usia 5-12 tahun. Secara acak, separuh anak diberi obat generik yang umum digunakan pada anak ADHD, dan sisanya tidak mendapat terapi obat sementara orang tua mereka mengikuti pertemuan kelompok untuk belajar teknik modifikasi perilaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Jangan Cemas Punya Anak Hiperaktif
Nah, perilaku anak-anak ini kemudian dievaluasi oleh orang tua juga guru di sekolah. Salah satu orang tua yang menerapkan terapi perilaku ini adalah Jacqueline Vaquer dan suaminya. Sang anak, Alec didiagnosis ADHD saat berusia 5 tahun. Setelah menjalani terapi perilaku ini, Jacqueline memasang semacam pita di meja sekolah Alec.
Sang guru melaporkan, perilaku Alec lebih baik di mana ia tidak terlalu sering lagi berlarian di sekitar kelas, bisa lebih berkonsentrasi, dan mampu menahan diri untuk tidak beranjak dari mejanya dan melewati pita pembatas yang dipasang Jacqueline. Sebagai imbalan, Jacqueline memberikan makanan penutup kesukaan Alec yaitu yoghurt bertabur cokelat.
Dua bulan uji coba terapi perilaku ini dilakukan, anak-anak juga dilaporkan tidak terlalu sering lagi melakukan pelanggaran peraturan di sekolah. Namun, jika anak tidak menunjukkan perkembangan yang cukup baik, maka Pelham mempersilakan orang tua untuk mengambil terapi obat.
"Hanya saja, bagi orang tua yang sudah terlebih dulu mengambil terapi obat bagi anaknya, mengambil latihan terapi perilaku ini mungkin terasa menyulitkan sehingga mereka enggan melakukannya. Padahal, hasil hitungan kami, terapi perilaku di awal setidaknya bisa menghemat biaya sekitar Rp 9,4 juta per tahun untuk biaya terapi anak ADHD," tutur Pelham.
Baca juga: Anak Hiperaktif Sangat Berisiko Saat Menyeberang Jalan
(rdn/vit)











































