Dr Stuart F Chan dari Brigham and Women's Hospital, Boston menyebut 25 persen anak-anak usia 12 tahun tidak tidur sesuai rekomendasi yakni 9 jam per hari. Akibatnya, mereka rentan mengalami masalah dalam menerima pelajaran dan sulit mengingat.
"Dengan kata lain, anak-anak yang kurang tidur ini akan sulit berprestasi di sekolah karena tidak mampu menerima dan mengingat pelajaran dengan baik," tutur Dr Chan, dikutip dari Reuters, Selasa (14/6/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Dr Chan, anak yang kurang tidur berisiko besar mengalami gangguan tidur nantinya. Hal ini berefek pada perilaku dan mood yang lebih agresif, salah diagnosa ADHD dan pada kasus yang berat, bisa menyebabkan penyakit jantung.
Selain itu, anak yang mengidap sleep apnea juga berisiko mengalami insomnia. Insomnia diketahui meningkatkan risiko masalah kejiwaan yang bisa berakibat anak lebih rentan depresi, menyakit dirinya sendiri dan bisa berujung bunuh diri.
Oleh karena itu, Dr Chan dan rekan-rekannya dari American Academy of Sleep Medicine sudah meluncurkan panduan baru tentang jam tidur bagi anak-anak dan remaja. Panduan terbaru ini mengadopsi hasil penelitian yang sudah dilakukan dan terbukti ilmiah, serta jangkauan umur yang sedikit berubah dari panduan sebelumnya.
- Bayi usia 4-12 bulan: 12-16 jam (termasuk tidur siang)
- Anak usia 1-2 tahun : 11-14 jam (termasuk tidur siang)
- Anak usia 3-5 tahun : 10-13 jam (termasuk tidur siang)
- Anak usia 6-12 tahun : 9-12 jam
- Remaja usia 13-18 tahun: 8-10 jam
DIharapkan dengan adanya panduan ini, orang tua bisa lebih waspada terhadap bahaya kurang tidur pada anak. Dengan kata lain, jika orang tua ingin anak berprestasi maka jam tidurnya pun harus dipenuhi.
Baca juga: Studi: Anak yang Mendengkur Cenderung Sulit Fokus Saat Belajar di Sekolah
(mrs/vit)











































