Fifi Alvianto, seorang family blogger, pernah punya pengalaman membawa ASI perah sebanyak 2,3 liter dalam perjalanan dari Singapura ke Jakarta. Fifi sebelumnya mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya agar aktivitas membawa ASI dalam pesawat tetap aman.
Menurut informasi yang dikumpulkannya, dalam penerbangan internasional memang terdapat aturan membatasi penumpang membawa cairan, di mana tidak boleh lebih dari sekitar 90 ml. Akan tetapi untuk ASI, ada aturan yang berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu ada pula peraturan Dirjen Perhubungan Udara nomor SKEP/43/III/2007 tentang Penanganan Cairan, Aerosol dan Gel yang dibawa penumpang ke dalam kabin pesawat udara pada penerbangan internasional. Di pasal 3 ayat 1 disebutkan aturan tentang cairan, aerosol dan gel yang dibawa sendiri oleh calon penumpang sebelum masuk ke dalam bandar udara harus memenuhi persyaratan tertentu seperti harus dimasukkan ke satu kantong plastik transparan ukuran 30 cm x 40 cm dengan kapasitas cairan maksimum 1.000 ml atau 1 satu liter dan disegel.
Disebutkan juga yang dimaksud dengan cairan, aerosol, dan gel dapat berupa minuman, perlengkapan kosmetik, obat-obatan, keperluan sehari-hari, dan lain-lain.
Namun di pasal 3 ayat 2 dinyatakan ketentuan tersebut tidak berlaku untuk obat-obatan medis, makanan/minuman/susu bayi dan makanan/minuman penumpang untuk program diet khusus.
"Jangan lupa melaporkan juga ice pack di dalam cooler box/bag ke petugas pabean saat check-in. Bila ice-pack tidak boleh dibawa, karena kemungkinan akan mencair setelah lewat batas waktu, sampaikan ke petugas pabean atau kru pesawat Anda akan menitipkan ASI perah di lemari pendingin pesawat," saran Fifi dalam blog-nya, the-alvianto.com
Jika terpaksa harus memompa ASI di bandara, Fifi menyarankan melakukan sebelum boarding. Hal ini untuk menghindari pertanyaan saat pemeriksaan sinar-X di gate sebelum naik pesawat.
"Pengalaman kemarin saya memompa di lounge bandara, masuk ke shower room dan dengan santai bisa memompa tanpa gangguan. Lalu masuk gate hanya mengatakan isi cooler bag adalah breastmilk," tutur Fifi.
Baca juga: Ibu Sering Telat Memerah ASI, Produksi ASI Bakal Menurun?
Untuk ASI yang berhasil diperah Fifi selama di Singapura, sesaat sebelum ke Jakarta, dimasukkan ke cooler box. Selanjutnya pinggiran tutup cooler box dilakban dengan kuat, dan dimasukan ke dalam koper. "Koper masuk ke bagasi pesawat," ucapnya.
Dihubungi terpisah, Nia Umar, Wakil ketua umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), menyarankan untuk mencetak ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi ibu menyusui di pesawat. Hal tersebut dapat membantu Anda agar memastikan maskapai yang melarang membawa ASI ke dalam pesawat.
"Seringkali maskapai berkelit tidak mengizinkan membawa ASI perah ini, bila bayi tidak ikut dalam penerbangan," terang Nia.
Menurut Nia, keberhasilan ibu menyusui buah hati sangat tergantung dari berbagai pihak termasuk dari maskapain penerbangan, ketentuan bandara udara, dan perlindungan pemerintah. Hal tersebut untuk memenuhi hak ibu dan bayi untuk menyusu dan menyusui.
Baca juga: Kisah Fifi, Bawa Oleh-Oleh 2,3 Liter ASI dari Singapura untuk Anaknya
(vit/vit)











































