Dr Harriet Hiscock dari Murdoch Childrens Research Institute, Royal Children's Hospital Melbourne, Australia mengaku terkejut saat melihat hasil penelitiannya. Penelitian dilakukan kepada 4.460 anak usia 6-7 tahun yang baru memulai tahun pertamanya di sekolah.
Hasil penelitian menyebut sekitar 22,6 persen anak mengalami masalah tidur. Masalah tidur tersebut beragam, mulai dari susah tidur, mimpi buruk, hingga kurangnya waktu tidur akibat anak yang sering terbangun tengah malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sangat terkejut. Kami pikir pola tidur anak tidak akan berubah ketika ia masuk sekolah. Namun hasil penelitian kami justru mengatakan sebaliknya," tutur Hiscock, dikutip dari NY Times, Selasa (26/7/2016).
Peneliti menduga bahwa perubahan pola tidur yang mendadak menyebabkan anak-anak mengalami masalah tidur di tahun pertama sekolah. Orang tua bisa jadi membiasakan anak tidur awal, namun mereka tidak pernah memaksa anak untuk bangun pagi, mandi, dan akhirnya pergi ke sekolah sebelumnya.
Hal ini membuat anak cenderung kaget sehingga mengganggu kesehatan tidur mereka. Padahal di usia 6-7 tahun, kecukupan kebutuhan tidur sangat penting untuk tumbuh kembang anak.
Teori lainnya adalah adanya gangguan yang disebut sebagai sleep onset association disorder. Hiscock mengatakan anak-anak yang merasa gelisah biasanya mengalami gangguan ini.
"Sleep onset association disorder membuat anak tidak bisa tidur tanpa konteks tertentu, misalnya ditemani orang tua atau tidur dengan televisi menyala. Hal ini biasa terjadi pada anak yang gugup dan meningkatkan risiko mengalami mimpi buruk, night terror hingga bangun terlalu awal," tandasnya.
Reut Gruber, psikolog sekaligus Direktur Attention Behavior and Sleep Lab, McGill University, mengatakan ada hubungan erat antara kurang tidur dan perilaku anak di sekolah. Aktivitas di sekolah membutuhkan perhatian, fungsi kognitif otak serta kapasitas memori, hal-hal yang diatur oleh prefrontal cortex di otak.
"Prefrontal cortex sangat sensitif terhadap kurang tidur, yang bisa membuat fungsi eksekutif dan fungsi kognitif anak berkurang," paparnya.
Baca juga: Beri Sesuatu Beraroma Tubuh Ibu Agar Bayi Lebih Mudah Tidur, Ampuhkah?
(mrs/vit)











































