Kamis, 04 Agu 2016 16:31 WIB

Pekan Menyusui Sedunia

Jarang Memerah ASI? Jangan Heran Jika Produksinya Terus Menurun

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Karena berbagai faktor penyebab, seringkali ibu tak bisa menyusui buah hatinya secara langsung selama beberapa waktu. Agar produksi ASI tetap terjaga dan tak menurun, jangan lupa untuk tetap memerah ASI ya.

Sebab semakin jarang ASI dikeluarkan, baik melalui proses menyusu langsung maupun diperah, maka akan semakin sedikit juga produksi ASI-nya. Demikian disampaikan oleh konselor laktasi RS Hermina Bekasi, dr Sylvia Haryeny, IBCLC.

Dokter yang akrab disapa dengan panggilan dr Sylvi ini menjelaskan, secara hormonal proses produksi ASI memang sangat dipengaruhi oleh pengeluaran dari si ASI itu sendiri.

Baca juga: Perjuangan Perah ASI di Tempat Umum: Oleh-oleh Hilang dan Koper Diambil Polisi

"Ketika bayi menyusu pada satu payudara, rangsangan sensorik dari puting payudara tersebut dikirim ke otak. Sebagai jawabannya, bagian depan kelenjar pituitari di dasar otak mengeluarkan prolaktin. Prolaktin masuk ke dalam darah menuju payudara dan menyebabkan sel-sel pembuat ASI memproduksi ASI," ungkap dr Sylvi saat berbincang dengan detikHealth.

Nah, sebagian besar hormon prolaktin tersebut akan berada di dalam darah selama kurang lebih 45 menit setelah penyusuan. Jadi, hormon ini membuat payudara konsisten memproduksi ASI untuk penyusuan berikutnya.

"Untuk penyusuan saat ini, bayi mengambil ASI yang sudah tersedia di dalam payudara yang merupakan hasil dari penyusuan sebelumnya, yang disimpan di dalam alveoli dan saluran-saluran kecil. Bila bayi kurang sering menyusu, jumlah prolaktin menurun dan payudara menghasilkan ASI lebih sedikit," imbuhnya.

Menurut dr Sylvi, jumlah ASI diproduksi menyesuaikan dengan kebutuhan bayi. Hormon prolaktin yang berperan dalam hal ini pun produksinya kerap naik dan turun sesuai dengan proses pengeluaran ASI.

"Supaya produksi ASI tetap terjaga, ASI perlu rutin dikeluarkan. Jadi bila tidak sedang bersama bayi, misalnya saat bekerja, ibu perlu mengeluarkan ASI secara rutin untuk menjaga supaya inhibitor tidak terus berada di dalam payudara," pesan dr Sylvi.

(ajg/vit)