Seperti penuturan dr Nafsiah Mboi SpA, MPH, secara fisik, dengan ASI maka pertumbuhan anak bisa optimal. Sebab, ASI mengandung nutrisi yang terbaik bagi bayi. Kemudian, dari sisi psikologi, ada manfat dari kontak fisik antara ibu dan bayi saat proses menyusui berlangsung.
"Waktu memberi ASI, ada kontak ibu dan bayi dan ketika ayah menyaksikan proses itu, bisa menghadirkan kebahagiaan luar biasa. Secara psikologi bisa memberikan energi positif," kata Nafsiah yang juga mantan Menteri Kesehatan RI, ditemui usai Peringatan Pekan ASI Sedunia di gedung Kementerian Kesehatan, Sabtu (6/8/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara ekonomis, pemberian ASI menguntungkan karena menyusui cukup murah dan efisien. "Kita nggak usah pergi belanja ini itu. Apa yang dimakan ibu itu yang di-share ke bayinya. Dan menyusui itu efektif kan, secara ekonomis bisa memberi keuntungan yang tinggi," imbuhnya.
Terkait tren menyusui di Indonesia, data Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015 menyebutkan 49,7 persen ibu melakukan IMD pada bayinya. Sementara, 65,1 persen bayi kurang dari usia 6 bulan mendapat ASI eksklusif.
Ke depannya, diharapkan terjadi perluasan cakupan ASI eksklusif dan masyarakat serta keluarga diharap bisa mendorong para ibu untuk bisa menyusui sampai bayi berusia 2 tahun.
Baca juga: Stres Cerai dan Minim Dukungan Kantor, Para Ibu Ini Berjuang Berikan ASI
(rdn/vit)











































