Bukan Ambisius, Anak Punya Target Nilai Tinggi di Sekolah Justru Optimistis

Bukan Ambisius, Anak Punya Target Nilai Tinggi di Sekolah Justru Optimistis

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 09 Sep 2016 15:02 WIB
Bukan Ambisius, Anak Punya Target Nilai Tinggi di Sekolah Justru Optimistis
Foto: thinkstock
Jakarta - Nilai mata pelajaran di sekolah bisa menunjukkan seberapa paham si anak terhadap materi yang diajarkan. Dalam mendapatkan nilai tersebut, ada anak yang optimistis mendapat nilai bagus atau sebaliknya, anak justru cenderung cuek dengan nilai yang didapat.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, mengatakan jika anak optimistis mendapat nilai bagus di sekolah, itu menunjukkan hal yang baik. Sebab, kondisinya berbeda dengan anak yang ambisius.

"Kalau ambisius dia melakukan apa aja untuk memenuhi keinginannya. Kalau optimistis, anak selalu semangat dan yakin saat berupaya mencapai targetnya. Kalau perfeksionis, perlu dibentuk lagi karakter anak karena manusia saja kan nggak ada yang sempurna," kata Ratih saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, pada anak yang optimistis, ketika ia mendapat nilai sedikit di bawah target, bukan tak mungkin ia mudah merasa gagal dan sedih. Contohnya, jika ia menargetkan mendapat nilai 100 namun nyatanya ia mendapat nilai 98, bukan tak mungkin anak merasa dirinya sudah gagal.

Baca juga: Anak Suka Menunda-nunda Mengerjakan Tugas Sekolah? Kenali Sebabnya

"Kalau begitu, kan cuma kurang dikit dari target nilai dia. Kasih tahu ke dia nilai segitu sudah bagus kok. Udah di atas rata-rata malah. Terus bisa juga orang tua ngajak anak membuat target baru yang lebih rendah sedikit dari nilai 100, 95 misal," lanjut wanita berkerudung ini.

Lantas, bagaimana jika anak cenderung cuek atau yang penting ia bisa mendapat nilai standar kelulusan saja? Menurut Ratih, orang tua perlu melatih anak untuk memiliki target. Bukan target yang dibuat orang tua, tapi melainkan si anak.

Jika orang tua yang membuat target nilai tersebut, anak bisa merasa apa yang ia lakukan dan dapatkan nanti bukan untuk dirinya, tetapi untuk kepentingan ayah dan ibunya. Mulanya, orang tua bisa bertanya berapa target nilai yang dimiliki anak.

"Kalau terlalu rendah, tanya ke anak 'target segitu sudah cukup memang? Dengan nilai segitu apa targetmu sudah tercapai? Nggak pengen punya nilai yang lebih tinggi lagi?'. Jadi terus gali apa pemikiran anak tentang target nilainya sambil beri motivasi dia supaya punya target yang nggak sekadar nilai standar minimal kelulusannya aja," kata Ratih.

Baca juga: Ajarkan Tanggung Jawab, Ersa Mayori Bolehkan Anak Main Setelah Kerjakan PR


(rdn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads