Ada sebagian anak yang minta sesuatu sampai ia menangis bahkan tantrum. Nah, agar ini tak terjadi, Ayah dan Ibu bisa mengajari anak sikap menahan diri.
Menurut psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani SPsi MSi, mengajari anak menahan diri memiliki banyak manfaat. Bahkan dalam jangka panjang, anak bisa terhindar dari sifat rakus, tidak bisa menahan diri dan tidak dapat membedakan kebutuhan atau keinginan, termasuk saat mereka memasuki dunia kerja.
"Mengajarkan anak menahan diri bisa dimulai sejak usia 1,5 sampai 2 tahun. Nah ketika anak temper tantrum yaitu menangis, teriak-teriak hingga guling-gulingan itu waktu yang tepat untuk mengajarkan anak menahan diri," ucap wanita yang akrab disapa Nina ini dalam acara Diskusi Media 'Satu Tahun Implementasi Program Anak Cerdas PJI & HSBC' di SDN 12 Bendungan Hilir, Jl Taman Bendungan Jatihilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Pentingnya Biasakan Diri 'Mendengar Suara' Anak bagi Orang Tua
Lebih lanjut, Nina mengatakan temper tantrum biasanya terjadi pada anak sampai usia 8 tahun. Dan ketika anak mengalami hal tersebut, orang tua diminta untuk menenangkan anak daripada memberikan apa yang anak inginkan.
Nina menjelaskan, ketika anak meminta suatu hal yang baik dan merupakan kebutuhan, orang tua bisa mengajarkan anak untuk meminta dengan baik dan sopan misalnya 'Bu, minta dong'. Tapi, bagaimana jika anak meminta suatu hal yang tidak diperbolehkan misalnya ia minta permen lagi padahal sudah makan 3 buah permen?
Nah, orang tua bisa mengatakan pada anak 'Maaf Nak, tidak ada permen lagi untuk kamu hari ini'.
"Kalau di usia balita biasanya lebih manipulatif sekali, jadi kalau mau membuat dia belajar menahan diri adalah dengan stick pada aturannya, jangan mau diubah-ubah misalnya, 'Bu aku kayaknya nggak perlu mandi deh karena nanti sore udah kotor lagi'. Nah itu kan sebenarnya anak malas mandi, maka kita ajarkan dengan 'oh tidak Nak, aturan kita adalah mandi 2 kali sehari'," imbuh psikolog yang juga praktik di klinik Tiga Generasi ini.
Sementara, untuk pengendalian diri anak usia sekolah dasar (SD), bisa dilakukan dari aktivitas sehari-hari. Nina mencontohkan anak mau pergi bermain padahal ia harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) miliknya. Jika seperti itu, biasanya anak akan melakukan tawar-menawar.
Contohnya, ia akan mengucapkan kalimat seperti 'aku mau main dulu, nanti kalau udah main baru aku belajar'. Untuk meresponsnya, orang tua bisa menjelaskan 'oh bukan begitu, kebalik Nak, kamu belajar dulu sampai selesai baru boleh main'.
"Jadi jangan memperbolehkan dia mendapatkan haknya sebelum menyelesaikan kewajibannya dan itu pembelajaran menahan diri yang luar biasa. Kalau dari kecil anak sudah diajarkan untuk menahan diri maka nanti mereka akan lebih memahami 'oke ini yang saya butuhkan, ini yang saya prioritaskan, ini yang tidak terlalu saya butuhkan, jadi bisa belakangan'. Sehingga pemahaman anak bisa lebih bagus dan kompleks," kata Nina.











































