Senin, 05 Des 2016 14:10 WIB

Kata Psikolog Soal Ungkapan 'Sesekali Ajari Anak Prihatin'

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - 'Jangan terlalu manjakan anak. Sekali-sekali, ajari anak prihatin'. Ayah dan Ibu, pernahkah Anda mendengar anjuran seperti itu?

Memang tak baik jika anak terlalu dimanjakan. Namun, bagaimana ketika anak diajarkan konsep hidup prihatin? Menanggapi hal ini, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi mengatakan konsep prihatin di sini lebih tepat merujuk pada bagaimana anak diajarkan untuk berjuang.

Tujuannya, supaya jiwa berjuang dan mampu beradaptasi serta bertahan di situasi sulit tetap dimiliki anak. Sebab, kata Ratih, kemampuan bertahan di situasi yang tidak nyaman mulai hilang di anak-anak zaman sekarang.

"Panas dikit, dia bilang 'nggak mau deh ke sini'. Pas ke pasar tradisional, dia bilang 'ih kotor, jijik, nggak mau ah'. Naik sepeda, dia nggak mau, capek. Karena dia terbiasa mendapat kenyamanan," tutur Ratih saat berbincang dengan detikHealth.

Baca juga: Tak Ingin Anaknya Manja, Ibu Lakukan Kebohongan Lebih dari 10 Tahun

Memang, kenyamanan adalah hak tiap anak. Hanya saja, jangan lupa bahwa orang tua perlu mengenalkan konsep bertahan di situasi yang tidak nyaman dan anak harus mandiri. Contohnya, meski ada asisten rumah tangga alias ART, anak terbiasa melakukan tugasnya seperti membereskan tempat tidurnya sendiri.

Kemudian, jika di rumah menggunakan water heater, mandi dengan air hangat bisa diterapkan di situasi tertentu misalnya saat cuaca dingin. Sehingga, tegas Ratih, memang ada hal-hal yang perlu dibicarakan dengan anak supaya anak tidak memanjakan diri.

"Kalau pergi biasa naik mobil, sesekali ajak naik angkot, bus, kereta, itu kan sekalian belajar transportasi ya jadi anak punya pengalaman. Kemudian saat di rumah, jangan melulu pake AC, perbanyak outdoor activity," kata pemilik akun twitter @ratihyepe ini.

Baca juga: Cara Mencegah Anak Manja (rdn/vit)