Surya mengatakan angka tersebut termasuk tinggi. Dalam beberapa tahun terakhir tidak ada perbaikan yang signifikan salah satu penyebabnya karena kehamilan ibu Indonesia tak terencana dengan matang.
"30 Persen anak Indonesia keadaannya stunting, pendek tingginya pendek juga otaknya karena dari waktu ibu hamil mengandung kurang gizi. Setelah itu pemberian air susu ibu (ASI) juga tidak lengkap yang seharusnya mulai dari inisiasi menyusui dini, terus eksklusif enam bulan, lanjut sampai dua tahun tanpa setetes pun susu sapi," kata Surya ketika ditemui di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (15/12/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika ibu kesulitan memberikan ASI, maka anak umumnya dengan mudah akan diberikan susu sapi sebagai pengganti. Menurut Surya ini adalah kebiasaan yang seharusnya dihindari karena bagaimanapun asupan terbaik bagi bayi adalah ASI.
ASI adalah asupan utama gizi anak yang sehat dan berkualitas. Bila usia anak sudah semakin bertambah maka pemberian ASI bisa disandingkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI).
"MPASI bisa bubur, bisa sari-sari buah, bisa juga biskuit. Tidak ada susu sapi," kata Surya.
"Susu sapi hanya untuk ibunya. Kalau lagi hamil, lagi menyusui, minum susu sapi bagus untuk gizi ibu. Tapi faktanya coba survei, para orang tua kita minum susu sapi nggak?" pungkasnya.
Baca juga: Tubuh Menggigil dan Payudara Nyeri Luar Biasa karena Telat Memerah ASI
(fds/vit)











































