Sebetulnya, wanita 24 tahun ini sudah ingin melakukan itu saat kelahiran putri pertamanya Kailah yang kini berusia 1 tahun, tapi gagal. Nah, kesempatan datang saat ia hamil anak keduanya dan akhirnya, Lauren berhasil memotret momen saat bayi laki-lakinya, Kai yang lahir dengan bobot 3,7 kg.
"Saya hanya meletakkan kamera di perut saya dan terus menekan tombol capture. Saya bahkan menutup mata saya dan hanya berharap bisa mendapat gambar yang saya inginkan. Saat seorang teman berkata Kai akan keluar, saya lebih bersiap memencet tombol capture," kata Lauren, dikutip dari The Sun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa orang mengaku lebih senang menyaksikan momen kelahiran dengan menyaksikannya langsung. Tapi saya, sudah melihatnya secara langsung dan dengan kamera saya. Untuk para ibu lainnya, jika mampu mengapa kita tidak mendokumentasikan sendiri apa yang kita miliki bukan? Ada seorang manusia yang tumbuh di dalam tubuh kita, dan kita melahirkannya," kata Lauren.
Foto Kai, yang berhasil dijepret Lauren (Foto: Facebook/ You're My Focus) |
Kepada Today, Lauren berharap foto dan kisahnya bisa mengedukasi orang lain yang belum familiar dengan seperti apa proses persalinan. Ini berangkat dari pengalamannya di mana dua teman Lauren hanya punya bayangan proses persalinan seperti di film-film.
Menurut Lauren, ia mencoba menjelaskan bahwa proses persalinan tak selamanya seperti yang ada di film-film. Di mana umumnya orang mempersepsikan saat bersalin wanita akan berteriak sekencang mungkin dan mengalami perdarahan di mana-mana.
Baca juga: Trik Siasati Nyeri Kontraksi Saat Melahirkan
Memang, tidak dijelaskan apa prosedur persalinan yang digunakan Lauren. Namun, seperti ibu hamil lainnya, pastinya nyeri juga dirasakan Lauren. Nah, soal nyeri saat melahirkan, keluhan ibu saat bersalin cenderung berbeda. Ada ibu yang merasakan nyeri luar biasa, tapi ada juga yang biasa-biasa saja.
dr Sita Ayu Arumi, SpOG dari RSU Bunda Menteng Jakarta menjelaskan secara garis besar ada empat sebab utama yang mendasari perbedaan ini. Pertama, faktor fisiologis di mana kondisi fisik si calon ibu menurun akibat kelelahan atau malnutrisi selama hamil. dr Sita mengatakan ibu yang mengalami kelelahan dalam persalinan tidak cukup toleran dalam menghadapi rasa nyeri, sehingga intensitas nyerinya semakin tinggi.
"Kedua, faktor usia. Wanita yang baru melahirkan pertama kali dengan usia tua juga merasakan intensitas nyeri yang lebih tinggi ketimbang wanita yang baru melahirkan pertama kali di usia yang lebih muda. Ketiga, ukuran janin. Semakin besar janinnya, maka diperlukan peregangan jalan lahir yang semakin lebar, sehingga nyeri yang dirasakan semakin kuat," terang dr Sita.
Terakhir, faktor produksi hormon ibu. dr Sita mengatakan, ini tergantung juga pada efek opioid endogen atau endorphin, yaitu neurotransmitter yang menghambat pengiriman rangsang nyeri sehingga dapat menurunkan sensasi nyeri. Padahal, kadar endorphin berbeda antara satu orang dengan lainnya, demikian disampaikan dr Sita.
Baca juga: Pembukaan Jalan Lahir Tak Kunjung Bertambah, Pasti Melahirkan Secara Caesar? (rdn/up)











































Foto Kai, yang berhasil dijepret Lauren (Foto: Facebook/ You're My Focus)