Selasa, 07 Feb 2017 14:30 WIB

Kursi Bola Tenis Buatan Bu Guru untuk Murid dengan Masalah Sensori

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Facebook/ Raymond Ellis Elementary School
Jakarta - Wanita ini bekerja sebagai guru di Raymond Ellis Elementary School di Illnois. Untuk membantu murid-muridnya yang berkebutuhan khusus, wanita yang disebutkan bernama Miss Maplethorpe ini menciptakan kursi sensori. Kreatif!

Dalam foto yang diunggah di halaman Facebook Raymond Ellis Elementary School, disebutkan bahwa Maplethrope berharap kursi khusus itu bisa membantu anak-anak dengan Sensory Processing Disorder (SPD), Autism Spectrum Disorder (ASD), dan Down Syndrome.

Seperti diketahui, anak-anak dengan kondisi seperti itu ada yang memiliki masalah dengan sensorinya. Kursi itu diciptakan Maplethrope dengan memanfaatkan bola tenis yang dipotong menjadi dua kemudian ditempelkan di alas serta sandaran kursi. Nantinya, akan ada sensasi bergerenjal ketika murid duduk di kursi itu.

"Miss Maplethrope, dari Speech and Language Department membuat kursi ini untuk anak-anak dengan masalah sensori. Terima kasih Miss Maplethrope," demikian keterangan dalam foto tersebut.

Baca juga: Kenali, Ini Gejala Autisme pada Anak-anak

Pihak sekolah menambahkan, sensory seating digunakan untuk murid yang mungkin memiliki kesulitan dalam memproses infromasi dari sensorinya. Bola tenis di alas dan sandaran kursi bisa menjadi tekstur alternatif untuk meningkatkan regulasi sensori anak.

Dikutip dari Essential Kids, The Child Mind Institute menyebutkan anak dengan SPD kadang suka ketika merasakan tekanan seperti mengeksplor berbagai tesktur berbeda. Sehingga, ketika ada kursi yang terlihat tidak nyaman bagi anak lainnya, itu bisa jadi kursi yang dibutuhkan anak dengan kesulitan sensori.

Sementara, Interactive Autism Network Community menyebutkan anak dengan autisme umumnya memiliki kesulitan sensori. Biasanya anak akan dievaluasi apakah mereka mengalami hyposensitive atau hypersensitive pada stimulasi seperti suara, sentuhan, penglihatan, rasa, atau bau.

Nah, terapi pada tiap anak berbeda. Misalnya menggambar dengan jari di pasir, main ayunan memakai tali, melompati bola, dan merangkak di lorong. Aktivitas seperti itu akan disesuaikan dengan kebutuhan anak yang berbasis permainan.

Sejak diunggah pada 27 Januari lalu, foto Maplethrope dengan dua kursi buatannya sudah dibagikan lebih dari 90 ribu kali. Sebanyak 13 ribu lebih komentar pun mampir di foto tersebut. Netizen bernama Rebecca Crow mengatakan ini ide yang brilian. Ia rasa, Maplethrope mesti mendaftarkan hak paten atas kursi itu.

Sementara, Healther Brenner berpendapat apa yang dilakukan Maplethrope pasti berdasarkan pengalamannya. Jika ada dua anak dengan autisme, bisa jadi kursi ini bermanfaat bagi satu anak sementara satu anak lain merasa tidak nyaman dengan kursi itu.

"Saya yakin dia memikirkan kebutuhan muridnya saat membuat kursi ini. Saya bangga dia sudah menginvestasikan sesuatu untuk kebaikan muridnya," kata Heather.

Baca juga: Benarkah Imunisasi MMR Bikin Anak Jadi Autis?


(rdn/up)