Gambaran Pneumonia di Lombok, Tempat Pilot Project Vaksin Pneumonia

Gambaran Pneumonia di Lombok, Tempat Pilot Project Vaksin Pneumonia

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Jumat, 10 Mar 2017 19:05 WIB
Gambaran Pneumonia di Lombok, Tempat Pilot Project Vaksin Pneumonia
Foto: thinkstock
Jakarta - Vaksin pneumonia bakal diluncurkan melalui pilot project di Lombok, tepatnya di dua kabupaten terlebih dulu yakni Lombok Barat dan Lombok Timur. Jika hasil pilot project di Lombok memuaskan, bisa saja vaksinasi pneumonia menjadi program nasional.

"Kenapa Lombok? Karena pneumonia paling tinggi di sana. Kita ingin coba mendokumentasikan data semua untuk melihat adakah dampak penurunan pneumonia yang sekaligus menurunkan angka kematian bayi," kata Direktur Surveilans dan Karantina Penyakit Kementerian Kesehatan Ri, dr Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc dalam keterangan tertulisnya.

Lantas, bagaimana gambaran kasus pneumonia yang terjadi di Lombok? Wiji Jihar Santoso dari Lembaga Studi Partisipasi, Ekonomi, dan Demokrasi di Lombok, Mitra Samya mengatakan tercatat ada 12 kasus kematian akibat pneumonia di Pulau Lombok tahun 2016.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasar data bagian pengelola program ISPA NTB, ada 12 kematian balita akibat pneumonia. Di mana 1 dari Mataram, 7 dari Lombok Tengah dan 4 dari Lombok Timur," kata Wiji dalam Forum Ngobras 'Harapan Baru Eradikasi Pneumonia di Indonesia' di D'Lab, Menteng, Jakarta pusat, Jumat (10/3/2017).



Wiji menuturkan umumnya kasus pneumonia di Lombok banyak ditemukan di lingkungan pemukiman padat dan kumuh. Hal tersebut pun tak lepas dari masalah ekonomi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Wiji mencontohkan berdasarkan laporan PKM Tanjungkarang, di rumah industri di daerah Kelakik digunakan bahan bakar berupa ban bekas.

Baca juga: Anak Sering Sesak Napas dan Pilek, Apa Solusinya?

"Kemudian kasus di Desa Kuripan Selatan merupakan dampak dari pembakaran batu bara. Masih ada lagi masalah PHBS seperti kurang menjaga kebersihan contohnya tidak mandi teratur dan tidak cuci tangan sebelum makan," kata Wiji.

Masalah lainnya yakni masyarakat tidak mengolah air minum, makanan, sampah serta limbah cair rumah tangga dengan baik. Masyarakat juga tidak ke posyandu secara rutin, kurang memperhatikan gizi dan masih banyak masyarakat yang merokok di dalam rumah.

"Kemudian budaya papak. Di beberapa tempat tertentu, anak dititip ke neneknya misal karena ibunya jadi TKI. Nah, neneknya ini beri makan cucunya dihaluskan dengan mulut (papak) meski memang praktik ini sekarang sudah sedikit sekali ya," kata Wiji.

Wiji berharap dengan program demonstrasi vaksin pneumonia, angka pneumonia bisa berkurang dengan target yang tepat sasaran. Diharapkan pula kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat meningkat dengan melibatkan kader kesehatan, masyarakat, dan LSM.

"Kemudian bisa mengembangkan sistem dan mekanisme layanan data, informasi, penanganan kasus dan upaya pencegahan. Serta adanya Jamkesmas dan pastinya masyarakat bebas pneumonia," kata Wiji.

Baca juga: Sesak Napas Belum Tentu Asma, Apa Bedanya? (rdn/up)

Berita Terkait