Selasa, 14 Mar 2017 09:02 WIB

Ini Alasannya MPASI Baru Diberi Saat Bayi Berusia 6 Bulan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - MPASI alias Makanan Pendamping Air Susu Ibu (ASI) bisa diberikan pada bayi ketika ia sudah berusia 6 bulan. Lantas, mengapa pemberian MPASI harus menunggu sampai anak berusia 6 bulan ya.

Mengacu pada Ankga Kebutuhan Gizi (AKG) 2013, kebutuhan gizi bayi meningkat setelah usia 6 bulan sehingga diperlukan asupan selain ASI. Dengan demikian, setelah berusia 6 bulan bayi membutuhkan makanan lain agar angka kecukupan gizinya terpenuhi.

Selain itu, sistem penceraan bayi termasuk pankreas sudah berkembang dengan baik. Sehingga, ia mampu mengolah, mencerna, serta menyerap protein, lemak, dan karbohidrat dari bahan makanan selain ASI.

"Ginjal juga sudah berkembang dengan baik sehingga mampu mengeluarkan produk sisa metabolisme, termasiu dari bahan pangan tinggi protein seperti daging," ujar tim penulis dalam bukunya 'Jurnal Program Nutritalk Tumbuh Kembang Optimal Ciptakan Pemimpin Andal' yang disusun Kelompok Kerja Jurnalis Penulis Kesehatan (K2JPK) dan Sari Husada.

Di usia 6 bulan, sistem persarafan dan oromotor bayi semakin berkembang dari mulai hanya mengisap menjadi menggigit. Kemampuan mengontrol lidah si kecil juga meningkat seiring dengan mulai tumbuhnya gigi-geligi. Di usia 6 bulan, bayi juga mulai mengunyah dan menelan sehingga risiko tersedak pun berkurang.

"Perkembangan motorik kasarnya juga semakin baik. Bayi sudah bisa duduk sendiri, mulai meraih benda dan memasukkannya ke dalam mulit. Hal ini sangat berguna untuk mulai mengenalkan aneka rasa dan tekstur makanan baru pada bayi," tambah tim penulis.

Ketika MPASI diberikan terlalu dini, ada risiko yang bisa terjadi. Saluran cerna yang belum sempurna akan bekerja ekstra keras untuk mengolah makanan padat. Akibatnya, makanan tidak dapat dicerna dengan baik dan memicu munculnya gangguan pencernaan seperti sembelit.

Selain itu, sistem kekebalan usus bayi juga belum sempurna. Sehingga, enzim yang berfungsi melapisi protein makanan penyebab alergi belum cukup diproduksi. Akibatnya, protein yang masuk ke sel-sel usus justru merangsang reaksi alergi dan intoleransi.

Baca juga: Makanan 'Dimain-mainkan' Justru Bantu Anak Doyan Makan Sayur

Lalu, apa yang terjadi ketika MPASI diberi terlambat, misalnya saat bayi sudah berusia di atas 7 bulan? Ya, bayi akan kekurangan gizi mengingat setelah usia 7 bulan kebutuhan gizinya meningkat. Selain itu, perkembangan oromotornya akan terganggu sehingga membuatnya sulit makan.

"Kondisi ini juga akan makin membuat bayi kekurangan gizi. Kalau sudah begitu, selain rentan sakit, tumbuh kembang bayi pun jadi kurang optimal, termasuk kecerdasannya," pungkas tim penulis.

Namun, sejatinya ada kondisi yang membuat pemberian MPASI tidak harus diberikan setelah anak berusia 6 bulan. Seperti penuturan dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA atau akrab disapa dr Tiwi, bila kenaikan berat badan bayi tidak memenuhi syarat dan bayi sudah berusia di atas 4 bulan, MPASI boleh saja diberikan.

"Kemudian, selama toleransi pencernaan bayi terhadap makanan yang diberikan baik. Jika si anak tidak mengalami pertumbuhan, salah satunya berat badannya tidak mengalami kenaikan, jika si anak berusia di atas 4 bulan, maka ia bisa diberi MPASI. Namun, jika anak berusia di bawah 4 bulan, ia bisa diberi ASI perah lebih banyak, donor ASI atau susu formula," tutur dr Tiwi.

"Jadi tolong artikan ASI eksklusif dengan baik. Jangan fanatik. Kalau bayi butuh sesuatu yang dia perlu. Atau bayi kurus, bobotnya nggak maksimal, umur udah 5 bulan, dia siap makan, kasih aja makanan pendamping ASI," tambah dr Tiwi kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Baca juga: Gangguan Pencernaan Bisa Hambat Perkembangan Anak


(rdn/up)
News Feed