Minggu, 19 Mar 2017 06:58 WIB

Ibu Alami Mastitis, Haruskah Berhenti Menyusui Sementara?

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Ilustrasi menyusui (Foto: thinkstock) Ilustrasi menyusui (Foto: thinkstock)
Jakarta - Mastitis atau peradangan pada payudara yang dialami ibu bisa membuat proses menyusui tidak nyaman. Ketika ini terjadi, apakah ibu memang harus berhenti menyusui di payudara tersebut?

"Kalau ibu sreg, pede, nggak apa-apa tetap saja menyusui," kata dr Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC di sela-sela Media Gathering 'Life Style Solutions Tropical Party' yang diadakan Tiga Generasi dan Gabag di Titan Center, Bintaro, Tangerang, Sabtu (18/3/2017).

Tapi ketika ibu ragu-ragu dan tidak nyaman, makin dia dipaksa menyusui, bukan tak mungkin ibu makin stres. Sehingga, lebih baik ibu menyusui di satu payudara saja yang memang tidak bermasalah. Dijelaskan perempuan yang akrab disapa dr Wi ini, ketika payudara penuh tapi pengosongannya tidak tuntas, terjadi peregangan yang memicu peradangan di payudara.

Untuk itu, salah satu tips mencegah mastitis adalah ibu disarankan membawa kontainer ASI perah ketika bepergian. Dengan begitu, ibu bisa selalu memerah ASI. Apalagi, kadang bayi hanya menyusu sebentar. Dikatakan dr Wi, tetap perah ASI, simpan, dan beri ke si kecil di lain waktu. Ketika tidak ada bendungan ASI, produksi ASI pun lebih lancar.

Baca juga: Amankah Pemakaian Antiperspirant Pada Ibu Menyusui?

Dokter yang juga ketua Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) ini menambahkan keperluan pengosongan ASI berbeda-beda pada tiap ibu, tergantung pada kebutuhan bayi. Pada ibu dengan bayi usia satu sampai dua bulan, perlu mengosongkan ASI 8 sampai 10 kali per hari, sesuai dengan kebutuhan menyusu bayi. Bagi ibu dengan anak usia satu tahun atau 15 bulan misalnya, perlu pengosongan 4 sampai 5 kali per hari.

"Makanya pada ibu dengan bayi 0 sampai 1 tahun kita rekomendasi tiap dua atau tiga jam sekali ibu pumping, seberapa pun hasilnya. Jangan lihat hasilnya, lihat targetnya, pengosongannya sering. Nanti anak makin besar, pumping-nya bisa berkurang. Kalau payudara sudah kosong, ibu kan bisa merasakan, ringan," kata dr Wi.


Ketika peradangan di payudara tidak diatasi akan timbul retak di kulit payudara. Saat ada kuman masuk, maka kuman masuk ke bawah kulit. Sehingga, terjadi infeksi di jaringan kulit payudara.

"Selama mastitis, ibu mau menyusui nggak apa-apa. Itu kan peradangannya di luar saluran ASI jadi nggak akan berpengaruh pada ASI yang disusu bayi.

Jika mastitis tak ditangani, bisa memicu abses atau timbulnya nanah di payudara. Penanganan kondisi ini bisa diberikan antibiotik atau dilakukan sedikit tindakan supaya nanah bisa keluar. Menurut dr Wi, penatalaksanaan penting supaya tidak mengganggu produksi ASI. Setelah dilakukan tindakan untuk mengatasi abses pun, ibu bisa segera menyusui kembali.

Baca juga: Fakta Mengapa Berat Badan Ibu Bisa Turun Saat Menyusui

(rdn/vit)