Senin, 22 Mei 2017 19:09 WIB

Indy dan Keasyikannya Kampanyekan Cara Gendong Anak yang Benar

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Indy saat kampanyekan cara menggendong bayi (Foto: Lila / detikHealth)
Surabaya - Menggendong sudah membudaya di masyarakat Indonesia dan dikenal memberikan manfaat yang luar biasa bagi ibu dan bayi. Tetapi nyatanya masih banyak ibu-ibu yang menggendong dengan teknik yang kurang tepat.

Hal ini diutarakan Nindy Nindita Sari, pendiri Indonesia Babywearing Club, sebuah komunitas untuk ibu-ibu pegiat gerakan menggendong.

Komunitas ini berawal dari keaktifan Nindy dalam sebuah komunitas parenting saat masih tinggal di Bangkok, Thailand pada kisaran tahun 2013. Saat itu ia memang tengah mengambil program magister di Kasetsart University.

Di komunitas tersebut, ia banyak diajak berbagi tentang metode parenting, termasuk soal menggendong. Kebetulan ada juga konsultan menggendong di komunitas tersebut. Dari situ ia baru menyadari jika di Indonesia belum ada komunitas seperti itu.

"Saya satu-satunya ibu dari Indonesia yang ikut komunitas ini, kemudian founder-nya mendorong untuk dibentuk saja komunitas seperti ini di Indonesia," kisahnya kepada detikHealth saat ditemui di Surabaya baru-baru ini.

Menurutnya, memang ada kesalahpahaman dalam budaya menggendong di Indonesia. Tetapi sebenarnya ini hanya didasari karena ketidaktahuan saja. "Orang-orang Indonesia itu kebanyakan menggendongnya diajarkan dari nenek ke ibu dan seterusnya, tapi satu model saja, di mana ibu harus menyangga dan selalu sedia padahal tanpa nanny, kita harus multitasking. Itu kan nggak mungkin melakukan pekerjaan rumah tangga pakai satu tangan saja," paparnya.

Kebetulan ini dibuktikan sendiri oleh sang adik yang melahirkan bayi berbobot besar dan tangannya terkilir saat menggendong sang buah hati. Persoalan lain yang sering ia temui di lapangan adalah banyaknya ibu yang mengalami perubahan postur tubuh karena menggendong anaknya di salah satu sisi tubuh, yang mengakibatkan skoliosis atau badan condong ke samping.

Baca juga: Kenali, Ini Jenis-jenis Gendongan yang Bisa Dipilih untuk Bayi

Awalnya hanya berbagi informasi tentang kegiatan menggendong seperti mengenalkan jenis gendongan dan manfaat menggendong dari segi medis lewat media sosial, wanita yang akrab disapa Indy tersebut memutuskan memperluas kegiatannya begitu pulang ke Indonesia pada kisaran tahun 2016.

Kegiatannya antara lain kumpul bareng untuk saling bertukar pengalaman tentang menggendong yang baik dan benar, talkshow yang melibatkan dokter untuk menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menggendong dengan benar, dan menari bersama bayi.

Inilah yang membedakan komunitas yang didirikan Indy dengan komunitas serupa. "Banyak yang bilang ke kami kalau pengen langsing selepas melahirkan tapi bayinya nggak bisa ditinggal, jadinya nggak bisa ngapain-ngapain," urainya.

Indy dan Keasyikannya Kampanyekan Cara Gendong Anak yang BenarFoto: Lila / detikHealth



Instrukturnya pun khusus didatangkan langsung dari Jakarta dan berpengalaman dengan kegiatan olahraga bersama bayi atau anak-anak. Sayangnya kegiatan ini baru sebatas diselenggarakan di Yogyakarta, itupun masih belum bisa rutin. Padahal animo anggota untuk kegiatan ini cukup besar.

Kegiatan juga sering terpusat di Solo atau Yogyakarta karena anggota komunitasnya memang baru sebatas berada di kisaran wilayah tersebut. Kebetulan Solo adalah tempat tinggal Indy. "Kita yang aktif di Solo, Yogya, Semarang, Pekalongan dan sekitarnya. Di Jakarta sendiri hanya ada beberapa sukarelawan," imbuhnya.

Baru-baru ini IBC mengirim sejumlah gendongan ke Pulau Nias, Sumatra Utara lewat salah satu program yang sedang digalakkan Indy dan timnya. Dalam program tersebut, mereka ingin memberikan donasi berupa gendongan ke sejumlah daerah, utamanya pinggiran kota.

Gendongannya sendiri dikumpulkan dari para sukarelawan. "Kita sih mintanya gendongan, tapi kalau bingung mau ngasih gendongan apa, uang juga bisa," imbuhnya.

Di Nias, mereka mendengar bahwa anak-anak sekolah dasar (SD) di daerah tersebut tidak diperbolehkan bersekolah jika tidak disambi mengurus adiknya yang masih bayi.

"Ini untuk mengurangi beban mereka. Kita juga berupaya edukasi kepala sekolah dan guru-gurunya yang kebetulan beberapa dari Jawa, tentang hal ini agar mereka memberikan pemahaman kepada ibu-ibunya supaya sadar," terang Indy.

Baca juga: Malas Gendong Bayi? Pesan Dokter Ini Akan Mengubah Pikiran Anda

Untuk memperkuat pengetahuannya tentang cara menggendong yang baik dan benar, alumni Universitas Gadjah Mada ini juga telah mengantongi sertifikat dari School of Babywearing UK sebagai konselor menggendong.

"Kebetulan mereka yang datang ke sini, saya tahunya dari medsos lalu ikut kelasnya. Waktu itu diadakan di Yogya dan pesertanya sekitar 12 orang," pungkasnya.

Indy dan Keasyikannya Kampanyekan Cara Gendong Anak yang BenarFoto: Lila / detikHealth


Berkat ketekunannya, Indy pun berhasil menggugah pemahaman banyak ibu tentang menggendong. Salah satunya Nia Fernanda, ibu muda asal Yogyakarta yang kini ikut aktif sebagai tim Indy di IBC. "Awalnya waktu hamil saya justru lebih banyak cari tahu tentang stroller, bukan gendongan," kisahnya ditemui dalam kesempatan yang sama.

Sampai akhirnya Nia mulai kerepotan dengan stroller karena banyak tempat di Indonesia yang tidak 'stroller-friendly'. "Sekitar dua tahun lalu ketemu lagi dengan Indy lalu mulai banyak ngobrol soal gendongan dan merasa bermanfaat," tutur ibu satu putra ini.

Manfaat yang dirasakan Nia antara lain tetap bisa aktif bekerja meski tanpa dibantu pengasuh dan menguatkan bonding atau ikatan antara dirinya dengan sang buah hati yang baru menginjak usia dua bulan. (lll/vit)