Dokter RSCM Bisa Deteksi Risiko Kerusakan Otot Panggul Saat Bersalin

Dokter RSCM Bisa Deteksi Risiko Kerusakan Otot Panggul Saat Bersalin

- detikHealth
Rabu, 28 Mar 2012 16:20 WIB
Dokter RSCM Bisa Deteksi Risiko Kerusakan Otot Panggul Saat Bersalin
Dr Budi Iman (dok. detikHealth)
Jakarta - Melahirkan melalui jalan lahir atau vagina dianggap lebih alamiah dengan masa pemulihan lebih cepat. Namun, risiko kerusakan otot dasar panggul lebih besar dibandingkan dengan persalinan caesar. Tapi tak perlu khawatir karena kini risiko kerusakan tersebut sudah bisa dideteksi.

Banyak pro dan kontra antara metode persalinan normal per vaginam (melalui jalan lahir vagina) dan operasi caesar. Ibu-ibu yang memilih persalinan normal biasanya menganggap metode ini lebih alamiah, namun tidak menyadari adanya risiko kerusakan otot dasar panggul.

"Kalau orang-orang dulu kan nggak tahu, mintanya persalinan normal karena dianggap alamiah. Tapi dengan tools ini kita bisa menentukan Anda bisa melahirkan normal dengan aman," jelas Dr. dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K), Kepala Departemen Obsetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, usia sidang Promosi Doktor kepada detikHealth, di Ruang Senat Akademik FKUI, Jakarta, Rabu (28/3/2012).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerusakan otot dasar panggul memberikan kontribusi besar pada disfungsi dasar panggul. Bila sudah mengalami kerusakan otot dasar panggul, maka seorang wanita akan mengalami kondisi-kondisi berikut:
  1. Tidak bisa menahan buang air kecil atau sering mengompol
  2. Tidak bisa menahan buang air besar
  3. Tidak bisa menahan kentut
  4. Peranakan atau kandung kencing turun keluar dari vagina
  5. Hubungan intim terganggu.

Tapi tak perlu khawatir. Ibu-ibu yang tetap ingin merasakan proses persalinan alami masih bisa melahirkan dengan aman jika sebelumnya melakukan pengujian untuk menghitung risiko terjadinya kerusakan otot dasar panggul.

Pendeteksian risiko kerusakan otot dasar panggul (otot levator ani) pada persalinan per vaginam (melalui jalan lahir vagina) kini bisa dideteksi dengan alat skoring yang ditemukan oleh Dr Budi, dokter dan juga mengajar di FKUI-RSCM.

Dalam penelitian disertasinya, Dr Budi menemukan alat skoring yang ia beri nama BISA (Budi Iman Santoso Assessment) dan BLAST (Budi's Levator Ani Scoring Tools) System.

BISA berupa lembaran yang berisi indikator penentu risiko sedangkan BLAST berupa software yang nantinya bisa digunakan ibu-ibu secara umum atau tenaga kesehatan. Pada alat skoring tersebut, ada dua model yang digunakan, yaitu model dengan 3 variable dan 2 variable.

Pada model I, variable penentu tingginya risiko kerusakan otot dasar panggul yang digunakan adalah:
  1. Pengguntingan saat persalinan
  2. Lama mengedan (tidak boleh lebih dari 60 menit)
  3. Berat bayi (tidak lebih dari 3325 gram).

"Kalau ketiga variable ada, berarti ibu memiliki probabilitas untuk mengalami kerusakan otot dasar panggul 81 persen," jelas dokter kelahiran 5 September 1954.

Sedangkan pada model II, variable penentu tingginya risiko kerusakan otot dasar panggul yang digunakan adalah:
  1. Lamanya mengedan (tidak boleh lebih dari 65 menit)
  2. Robekan perineum. Jika dua variable ada, probabilitas kerusakan mencapai 87 persen.

"Jadi setiap saat ibu-ibu, provider atau orang awam tinggal mengisi pertanyaan. Nanti ditanya apakah Anda mengerti mengenai robekan struktur perinium III-IV, kalau dia nggak tahu pakai pilihan pertama model I, dia kan bisa jawab dulu saya digunting nggak, kemudian berat badan bayi, lama mengedan. Nanti keluarlah probabilitasnya, ada sarannya juga apakah bisa aman melahirkan per vaginam atau harus caesar," ujar Dr Budi.

Artinya, lanjut Dr Budi, alat ini betul-betul bisa memproteksi ibu-ibu yang dikenali berisiko tinggi akan mengalami kerusakan pada otot dasar panggul.

"Jadi bukan berarti semua orang harus melahirkan normal atau caesar, tapi tools ini berguna untuk memback-up orang-orang yang pro per vaginam atau orang-orang yang pro caesar, jadi make sure. Tadinya kan nggak ada, dia suka-suka saja, mau melahirkan normal atau caesar," tutup Dr Budi.





(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads