Perempuan-perempuan zaman dahulu lebih banyak yang bersalin secara normal per vaginam (melalui jalan lahir vagina) karena dianggap cara alamiah. Namun sekarang banyak perempuan hamil yang ngotot melakukan operasi caesar meskipun risiko mortalitas (kematian) pada caesar lebih tinggi.
"Secara teori risiko untuk mortalitas (kematian) pada persalinan caesar lebih tinggi dibandingkan per vaginam," ujar Dr. dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K), Kepala Departemen Obsetri dan Ginekologi FKUI-RSCM, usia sidang Promosi Doktor kepada detikHealth, di Ruang Senat Akademik FKUI, Jakarta, Rabu (28/3/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembiusan itu juga menyebabkan atonia, pendarahan menjadi lebih banyak. Meskipun prevalensinya tidak tinggi, tapi kalau dihitung perkaliannya, ini menyebabkan risiko mortalitasnya lebih tinggi dari per vaginam," jelas Dr Budi.
Meski demikian, permintaan untuk persalinan caesar semakin tahun semakin meningkat, baik di negara maju maupun negara berkembang seperti Indonesia. Alasannya, lanjut Dr Budi, kebanyakan ibu-ibu hamil tidak ingin merasakan nyeri atau sakit saat proses persalinan.
"Makanya sekarang ada alat yang namanya ILA (Intrathecal Labour Analgesia) supaya tidak merasa sakit (saat melahirkan secara normal melalui jalan lahir vagina), tapi juga ruginya karena dia tidak merasa mengedan jadi harus ditolong dengan alat lagi. Nah, alat itu berisiko lagi untuk trauma (kerusakan otot dasar panggul)," jelas dokter kelahiran 5 September 1954.
Namun menurut Dr Budi, bukan berarti semua perempuan bisa melahirkan secara normal. Ada beberapa faktor yang mengharuskan seorang ibu hamil melahirkan lewat jalan caesar, salah satunya karena berisiko terjadinya kerusakan pada otot dasar panggul paska melahirkan serta komplikasi pada persalinan yang dapat membahayakan ibu atau bayi.
(mer/ir)











































