Bumil Indonesia Harus Melahirkan di Rumah Sakit

Bumil Indonesia Harus Melahirkan di Rumah Sakit

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Selasa, 15 Mei 2012 13:32 WIB
Bumil Indonesia Harus Melahirkan di Rumah Sakit
(Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Angka kematian ibu dan bayi merupakan indikator penting kondisi kesehatan suatu negara. Di Indonesia, angka kematian bayi sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Namun tidak demikian dengan angka kematian ibu melahirkan.

Dari target pemerintah untuk mencapai minimal 118 kematian ibu melahirkan tiap 100.000 kelahiran, sampai saat ini angka kematian ibu melahirkan masih 228 kematian tiap 100.000 kelahiran. Angka ini tidak bergeming sejak 5 tahun lalu.

Pemerintah mendorong para bidan agar mengajak ibu hamil (bumil) untuk melahirkan di rumah sakit atau puskesmas. Melahirkan di rumah atau dukun lebih berisiko bagi kesehatan ibu melahirkan dan bayinya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami berharap para bidan mendorong ibu melahirkan di rumah sakit. Sebab angka ibu melahirkan di rumah di Indonesia masih tinggi, yaitu 40%," demikian kata Ali Ghufron Mukti, Wakil Menteri Kesehatan RI dalam acara Workshop Nasional Pelayanan Kebidanan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI, Selasa (15/5/2012).

Wamenkes kemudian membandingkan dengan beberapa negara lain di Asean. Di Singapura, melahirkan di klinik saja sudah dilarang. Sedangkan di Malaysia melahirkan lewat dukun sudah dilarang.

Meskipun di Eropa tren untuk melahirkan di rumah mulai berkembang, Wamenkes tetap menyarankan untuk melahirkan ditemani bidan dan profesional kesehatan.

"Memang di Belanda justru terbalik, banyak yang melahirkan di rumah. Saya kira yang penting kalau bisa jangan di rumah dan harus didampingi bidan," kata Wamenkes.

Pasalnya, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia masih 2-3 kali lipat dibanding negara Asia lainnya. Lagipula, meskipun angka kematian bayi di Indonesia telah menurun, jumlahnya masih cukup tinggi dibanding Thailand dan Malaysia.

Menurut Wamenkes, angka yang cenderung stagnan ini disebabkan terjadinya kesenjangan untuk mendapat akses kesehatan. Jika diumpamakan, 228 kematian dari 100.000 kelahiran itu hampir sama setiap hari terjadi kematian ibu-ibu melahirkan yang menaiki satu pesawat Sukhoi.

(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads