Sebuah studi menemukan sekitar 1 dari 10 perempuan yang melahirkan melalui operasi caesar mengembangkan infeksi. Sekitar 9,6 persen perempuan yang operasi caesar mengembangkan infeksi, sedangkan operasi lain yang serupa seperti histerektomi (angkat rahim) hanya 6,6 persen.
Para ahli mengungkapkan infeksi adalah masalah serius bagi pasien serta bisa meningkatkan biaya perawatan selama ia di rumah sakit. Risiko infeksi ini akan lebih tinggi jika pasien memiliki kelebihan berat badan atau berusia kurang dari 20 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perempuan yang kelebihan berat badan memiliki risiko 60 persen lebih mungkin mengembangkan infeksi, dan orang yang obesitas hampir 2,5 kali lebih mungkin memiliki luka yang terinfeksi. Sedangkan perempuan berusia di bawah 20 tahun jadi 2 kali lebih mungkin mengalami infeksi dibanding perempuan yang berusia 25-30 tahun.
"Perempuan yang memilih untuk melakukan operasi caesar tanpa ada alasan medis harus menyadari risiko dari infeksi ini, terutama jika mereka kelebihan berat badan," ujar Dr Elizabeth Sheridan, Head of Healthcare Associated Infections, seperti dikutip dari Telegraph, Kamis (2/8/2012).
Dr Sheridan menuturkan pemantauan infeksi pada perempuan yang melakukan operasi caesar sangat penting sebagai bentuk menurunkan tingkat infeksi. Selain itu pada perempuan yang obesitas perlu mengoptimalkan teknik bedah dan mengidentifikasi dosis yang tepat untuk antibiotik jika diperlukan.
"Dengan kenaikan jumlah perempuan yang memilih caesar dan meningkatnya jumlah obesitas, maka masalah ini penting. Infeksi serius pasca bedah bisa mempengaruhi kualitas perempuan terlebih ia memiliki bayi yang baru dilahirkan," ujar John Thorp, BJOG Deputy-Editor-in-Chief.
Hal ini juga semakin mendukung bahwa setiap operasi caesar hanya dilakukan apabila ada indikasi klinis, serta perempuan yang hamil sebaiknya mengikuti diskusi dan mengetahui informasi lengkap mengenai operasi caesar ini.











































