5 dari 10 Ibu Hamil di Indonesia Kena Anemia

5 dari 10 Ibu Hamil di Indonesia Kena Anemia

Vera Farah Bararah - detikHealth
Rabu, 29 Agu 2012 15:48 WIB
5 dari 10 Ibu Hamil di Indonesia Kena Anemia
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Salah satu masalah yang dialami oleh kebanyakan ibu hamil di Indonesia adalah anemia. Padahal anemia ini bisa mempengaruhi perkembangan janin yang dikandung serta meningkatkan angka kematian ibu.

"Prevalensi ibu hamil yang terkena anemia sekitar 40-50 persen, hal ini berarti 5 dari 10 ibu hamil mengalami anemia," ujar dr Elvina Karyadi, MSc, PhD, direktur Micronutrient Initiative Indonesia (MI) dalam acara Sosialisasi Pentingnya Tablet Tambah Darah untuk Mencegah Anemia pada Ibu Hamil di Hotel Four Season, Rabu (29/8/2012).

dr Elvina menuturkan kondisi ini tentu saja berdampak bagi janin yang dikandung dan juga ibu hamil itu sendiri. Jika anemia berat maka meningkatkan risiko pendarahan yang bisa memicu kematian ibu, sedang pada bayi berisiko prematur dan berat badan bayi lahir rendah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengatasi hal ini, MI bekerja sama dengan Yayasan IBU bersama dengan dinas kesehatan Lebak dan Purwakarta mengadakan program penanggulangan anemia pada ibu hamil melalui peningkatan kualitas program suplementasi tablet tambah darah.

Bapak Tomi dari dinas kesehatan kabupaten Purwarkarta, Jawa Barat menuturkan angka kematian ibu di daerahnya pada tahun 2011 mencapai 33 orang. Penyebab utamanya akibat perdarahan dan juga infeksi.

"Salah satu penyebab terjadinya perdarahan adalah karena si ibu memiliki anemia saat hamil, ini terjadi karena ibu hamil tidak mengonsumsi suplemen tablet tambah darah," ujar Kusbandrio.

Kondisi yang sama juga terjadi di kabupaten Lebak, Kusbandrio dari dinas kesehatan Lebak, Banten mengungkapkan pada tahun 2011 ada 42 ibu yang meninggal dan 22 orang diantaranya meninggal karena perdarahan.

"Data yang ada di kita pada tahun 2007 ada 35 persen ibu hamil yang memiliki anemia. Pada tahun 2011 lalu ada 96 kasus berat badan bayi lahir rendah dan 38 kasus bayi lahir prematur," ujar Kusbandrio.

Kondisi ini tentu saja cukup memprihatinkan, karena pemerintah sendiri sebenarnya sudah memiliki program suplementasi tablet tambah darah pada ibu hamil sejak tahun 1970-an.

"Anemia ini jadi faktor risiko yang terkait dengan kematian ibu dan juga bayi, untuk itu pencegahan anemia bisa menekan angka kematian ibu dan anak serta meningkatkan kualitas anak yang dilahirkan," ujar dr Ridwan Gustiana, MPH selaku direktur Yayasan IBU (Indonesia Bhadra Utama).

Untuk itu menjadi hal yang penting bagi ibu hamil untuk mengonsumsi tablet tambah darah minimal 90 tablet selama masa kehamilan hingga nifas karena tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil.

Penyebab rendahnya asupan suplemen tablet tambah darah

Hasil Riskesdas 2010 menunjukkan konsumsi suplemen tablet tambah darah di Indonesia masih terbilang rendah karena hanya mencakup 18 persen saja. Kondisi ini turut meningkatkan prevalensi anemia di Indonesia.

"Program ini sudah ada dari tahun 1970-an tapi angka anemia masih segitu-gitu saja, suplemen ini sebenarnya gratis tapi masih tidak dikonsumsi oleh ibu hamil," ujar dr Ridwan.

Lebih lanjut dr Ridwan menuturkan ada beberapa hal yang membuat asupan suplemen tablet tambah darah ini hanya 18 persen yaitu:
1. Masalah pada distribusi sehingga suplemen yang sudah digratiskan oleh pemerintah ini tidak sampai sepenuhnya ke tangan para ibu hamil
2. Pengetahuan masyarakat yang rendah sehingga masih banyak persepsi negatif mengenai suplemen ini, salah satunya ada persepsi bayi akan menjadi hitam atau menjadi besar jika minum suplemen ini, padahal kenyataannya tidak.
3. Efek samping mual setelah minum suplemen yang membuat banyak ibu berhenti, padahal manfaat yang bisa didapat ibu hamil akan jauh lebih besar jika mengonsumsi suplemen ini.

"Kita perlu memperbaiki sistem suplainya agar semua terjangkau dan pelatihan pada bidan dalam memberikan komunikasi yang efektif, karena kebanyakan ibu hamil hanya dikasih suplemen saja tapi tidak dijelaskan apa manfaatnya," ungkapnya.

dr Elvina menuturkan jika seseorang sudah diketahui memiliki anemia maka suplemen tablet tambah darah tetap diperlukan, karena jika hanya mengandalkan makanan saja maka sulit untuk mengejarnya.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads