Studi yang dipublikasikan dalam British Journal of Obstetrics and Gynaecology ini menyatakan bahwa peningkatan penemuan kasus ini diakibatkan oleh peningkatan interaksi antara si calon ibu dengan dokter atau bidan selama hamil.
"Selain itu, hormon-hormon yang dilepaskan tubuh saat hamil bisa jadi menambah kecepatan perkembangan tumor sehingga tumor itu jadi lebih mudah dideteksi," terang salah satu peneliti, Profesor Christine Roberts seperti dilansir dari telegraph, Kamis (6/9/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ peneliti menemukan 1.798 kasus kanker yang berkaitan dengan kehamilan atau sama dengan 137,3 kasus per 100.000 kelahiran. Angkanya meningkat dari 112,3 kasus per 100.000 kelahiran pada tahun 1994 menjadi 191,5 kasus per 100.000 kelahiran pada 2008.
Pada periode yang sama, jumlah wanita berusia 35 yang baru memiliki anak meningkat dari satu per 7 orang menjadi satu per 4 orang.
Tak heran jika peneliti sempat menduga salah satu penyebab makin banyaknya kasus kanker pada wanita saat hamil itu karena kondisi fisik si ibu sendiri yang telah mengalami penurunan dan rentan terserang penyakit.
Jenis kanker yang paling sering ditemukan diantaranya adalah kanker kulit (melanoma), kanker payudara, kanker tiroid dan beberapa jenis kanker endokrin langka lainnya.
Tak hanya itu, peneliti juga menemukan bahwa kasus kanker yang ditemukan saat hamil dapat dikaitkan dengan tingginya risiko kelahiran caesar, kelahiran prematur hingga panjangnya usia kehamilan (usia gestasi).
"Masalahnya wanita jaman sekarang cenderung menunda punya anak padahal hal ini dapat meningkatkan risiko munculnya kanker saat hamil. Beruntung kehamilan telah mendorong peningkatan interaksi antara para wanita ini dengan dokter atau bidan sehingga diagnosisnya bisa lebih cepat dilakukan," pungkas Roberts dari Kolling Institute of Medical Research, University of Sydney, New South Wales.
(ir/ir)











































