Rabu, 24 Okt 2012 11:38 WIB

Ibu Hamil Banyak Makan Keripik Bisa Bikin Bayi Lahir Kurus

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Menjaga pola makan harus dilakukan seorang ibu yang sedang hamil. Sebab makanan yang dikonsumsi sang ibu akan berdampak pada janin yang sedang dikandungnya. Nah, salah satu makanan yang harus dihindari ibu hamil adalah keripik.

Mengonsumsi sejumlah besar keripik, kerupuk, dan biskuit selama kehamilan dapat menyebabkan bayi berbobot lebih rendah dari rata-rata saat lahir. Demikian dilansir The Telegraph, Selasa (23/10/2012). Untuk diketahui bobot bayi rata-rata adalah 2.500-4.000 gram.

Keripik, kerupuk, maupun biskuit ditengarai merupakan makanan yang mengandung akrilamida (atau amida akrilat). Senyawa organik sederhana tersebut dapat terbentuk pada bahan makanan gorengan yang mengandung pati. Pembentukannya terjadi pada pengolahan dengan suhu mulai 120 derajat C dan dengan kadar 30 hingga 2.300 mikromolal per kg.

Jika ibu hamil terlalu banyak makan makanan yang mengandung akrilamida dan banyak mengonsumsi kopi, kemungkinan bisa melahirkan bayi dengan lingkar kepala lebih kecil. Ukuran lingkar kepala normal adalah sekitar 30 sampai 37 cm. Nah, ukuran kepala bayi ini dikaitkan dengan masalah neurodevelopment. Jika berat badan bayi sangat kurang, hal ini dikaitkan dengan kesehatannya hingga tumbuh dewasa.

Dalam penelitian terbaru diketahui bayi yang lahir dari ibu yang mengonsumsi akrilamida, otaknya lebih ringan hingga 132 gram ketimbang bayi yang lahir dari ibu yang tidak mengonsumsi akrilamida. Sedangkan berat lahir bayi yang terpapar akrilamida tingkat tinggi jika dibandingkan dengan yang rendah tingkat paparannya, berbeda sekitar 100 gram. Apalagi jika ibu yang sedang hamil merokok, maka kemungkinan bayi yang dilahirkan memiliki kepala lebih kecil 0,33 cm dari rata-rata.

"Implikasi temuan kami pada kesehatan publik sangatlah substansial," ujar penulis laporan penelitian tersebut.

Peningkatan lingkar kepala bayi merupakan indikasi penting dari pertumbuhan otak. Sedangkan jika berat badan bayi yang baru lahir jauh lebih ringan ketimbang rata-rata, dikhawatirkan di masa mendatang akan rentan pada penyakit jantung, diabetes mellitus tipe 2, osteoporosis, atau kurangnya berat badan saat dewasa.

"Temuan ini memberikan bukti yang mendukung perlunya perubahan dalam produksi pangan dan untuk memberikan saran kesehatan pada wanita hamil agar mengurangi asupan makanan mereka yang mungkin mengandung konsentrasi tinggi akrilamida," sambung peneliti tersebut.

Para ilmuwan itu meneliti pola makan 1.100 wanita hamil antara tahun 2006 dan 2010 di Denmark, Inggris, Yunani, Norwegia dan Spanyol. Para ibu hamil diberi kuesioner tentang frekuensi makanan yang diasup. Peneliti juga memeriksa darah di tali pusar bayi yang bisa memberi informasi tentang tingkat paparan akrilamida selama bulan-bulan terakhir kehamilan.

Penelitian yang dipimpin oleh Pusat Penelitian di Lingkungan Epidemiologi (Creal) di Barcelona ini melibatkan 20 pusat penelitian di seluruh Eropa. Program ini adalah salah satu proyek riset terbesar karena meneliti sekitar 14.000 anak yang lahir di kota.

Profesor John Wright dari Institut Penelitian Kesehatan Bradford menyebut penelitian ini penting lantaran mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara akrilamida dan kesehatan bayi baru lahir. Menurutnya ada bukti potensi toksisitas akrilamida, sehingga produsen makanan harus didorong untuk mencari cara mengurangi zat ini dalam produknya.

"Dampak akrilamida sebanding dengan dampak merokok pada bayi yang baru lahir. Saran kami, ibu hamil mengikuti diet seimbang dan jangan mudah tergoda keripik dan kerupuk," ucap Wright memperingatkan.

(vit/up)