Hati-hati, Stres Sebelum Persalinan Tingkatkan Risiko Kematian Bayi

Hati-hati, Stres Sebelum Persalinan Tingkatkan Risiko Kematian Bayi

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Senin, 27 Mei 2013 14:10 WIB
Hati-hati, Stres Sebelum Persalinan Tingkatkan Risiko Kematian Bayi
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta -

Wanita memang sensitif dan mudah terserang stres. Tapi selama masa kehamilan hingga melahirkan, usahakan tetap tenang dan tidak overthinking terhadap berbagai hal. Pasalnya sebuah studi baru mengungkapkan bahwa bayi yang terlahir dari ibu yang stres beberapa bulan jelang persalinan berpeluang kecil untuk bertahan hidup hingga melewati tahun pertamanya.

Meski risiko kematian pada seluruh bayi yang menjadi partisipan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini tetap rendah, bayi yang ibunya menghadapi stres sebelum melahirkan berpeluang 53 persen lebih besar untuk meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka ketimbang bayi yang ibunya tidak terkena stres sebelum melahirkan.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari Indiana University, AS dan Karolinska Institute, Swedia mengamati rekam medis lebih dari 3 juta kelahiran di Swedia antara tahun 1973-2008. Dari situ peneliti mengidentifikasi adanya 8.398 kasus kematian bayi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir Livescience, Senin (27/5/2013), peneliti juga menemukan hampir 21.000 bayi terlahir dari ibu-ibu yang menghadapi peristiwa yang membuatnya stres (didefinisikan peneliti dengan kematian anggota keluarga secara mendadak) enam bulan sebelum persalinan. 93 anak itu pun dilaporkan meninggal saat masih bayi.

"Kita terlalu banyak memfokuskan pengamatan pada periode kehamilan, padahal ternyata periode pra-persalinan juga sangatlah penting. Untuk itu kita perlu mulai memahami bagaimana perbedaan paparan stres selama periode itu juga berdampak terhadap kehamilan," tandas Whitney Witt, seorang pakar epidemiologi dari University of Wisconsin, Madison yang tak terlibat dalam studi ini.

Nyatanya stres jelang persalinan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah, dua hal yang diketahui sebagai faktor risiko kematian bayi.

Kaitan antara stres jelang persalinan dan kematian bayi juga tetap ada meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi seperti kebiasaan merokok si ibu selama masa mengandung atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah.

Kendati begitu, tim peneliti mengungkapkan mungkin ada beberapa faktor yang tak diketahui lainnya yang dapat mempengaruhi temuan tersebut.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu selama masa pra-persalinan dapat mengubah sistem tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal-sinyal hormon persalinan berikut nutrisi ke janin sehingga mempengaruhi tahapan kehamilan yang paling dini yaitu ketika organ-organ si bayi baru mulai terbentuk.

Namun peneliti menekankan bahwa kematian orang-orang tercinta bukanlah satu-satunya jenis stres yang perlu diwaspadai. Penyakit yang diidap si ibu hamil, kekhawatiran finansial hingga gangguan kesuburan juga dapat memberikan beban tersendiri bagi tubuh.

Untuk itu, Dr. Jill Rabin, seorang dokter spesialis ob-gyn dari Long Island Jewish Medical Center, New York menyarankan agar sebelum hamil, para wanita menemui dokter agar mereka dapat memperoleh konseling sekaligus mencaritahu adakah masalah kesehatan atau pola makan yang mereka miliki. Pasalnya menurut Rabin yang tidak terlibat dalam studi ini, 40 persen pasien baru melakukan hal ini ketika usia kehamilannya telah memasuki trimester kedua.

(up/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads