Hal ini diamini oleh sebuah studi baru dari Kanada yang menemukan bahwa anak-anak yang terlahir dari ibu yang langsing akibat operasi gastric bypass memiliki perbedaan genetik dengan saudara-saudaranya yang lahir dari ibu yang sama namun sebelum menjalani prosedur tersebut.
"Obesitas pada ibu ini mencetak sejenis penanda yang terletak pada DNA anak yang kemudian mempengaruhi ekspresi gen mereka, termasuk meningkatkan risiko penyakit kronis mereka," ungkap peneliti Marie-Claude Vohl dari Institute of Nutrition and Functional Foods, Laval University, Kanada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan usia sang ibu berkisar antara 35-51 tahun dan kesemuanya dikategorikan sebagai obesitas sebelum mereka menjalani prosedur biliopancreatic diversion with duodenal switch. Setelah itu para ibu kehilangan 45 kilogram pasca operasi.
Prosedur biliopancreatic diversion with duodenal switch memang tak sepopuler gastric bypass lainnya yaitu prosedur Roux-en-Y, namun efektivitasnya sama. Prosedur ini dilakukan untuk mengurangi konsumsi makanan dan kalori dengan mengatur kembali saluran pencernaan. Caranya dengan memisahkan duodenum (bagian pertama dari usus kecil) dengan bagian usus kecil lainnya.
Dari situ peneliti menemukan bahw 5.698 gen di dalam tubuh anak yang lahir setelah ibunya menjalani prosedur tersebut memperlihatkan ekspresi yang berbeda daripada saudara-saudaranya yang lahir ketika ibu mereka masih obesitas. Perubahan itu pun menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir setelah prosedur memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik.
Secara spesifik, banyak dari gen-gen tersebut yang dimetilasi alias diubah sehingga ekspresinya ikut berubah dan hal ini mempengaruhi resistensi insulinnya, sebagai salah satu penyebab utama diabetes.
Disamping itu, seperti dilansir cbsnews, Minggu (2/6/2013), anak yang lahir pasca operasi juga mempunyai lingkar pinggang dan lingkar pinggul yang lebih kecil, kadar insulin (saat berpuasa) yang lebih baik serta tekanan darah yang lebih rendah.
Sepakat dengan studi ini, untuk itu Dr. Mary Evans dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases pun mengatakan bahwa yang terbaik adalah memiliki berat badan yang sehat sebelum mengandung.
Sebab menurut March of Dimes, wanita yang kelebihan berat badan atau obesitas ketika hamil lebih cenderung memiliki anak yang terlahir secara prematur, mengalami cacat lahir (seperti neural tube defects), menderita cedera seperti distosia bahu atau bahkan mengikuti jejak ibunya yaitu menjadi obesitas sejak kecil.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
(/)










































