"Sebagian besar buku dan situs yang saya baca mengatakan bahwa satu dari tiga wanita berusia 35-39 tahun takkan bisa hamil setahun setelah mereka mulai mencobanya," kata profesor di bidang psikologi dari San Diego State University bernama Jean Twenge seperti dilansir Daily Mail, Senin (1/7/2013).
Begitu pula dengan halaman pertama buku panduan American Society for Reproductive Medicine's (ASRM) tahun 2003 yang menekankan bahwa di akhir usia 30-an, 30 persen wanita diprediksi takkan pernah mempunyai anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi penulis buku 'The Impatient Women's Guide to Getting Pregnant' ini, tak ada bedanya jika seorang wanita hamil pada usia 27 ataupun 39, meski mayoritas buku dan situs kesehatan mengatakan hal sebaliknya. Bahkan Twenge berani mengatakan bahwa sejumlah statistik yang banyak dipergunakan sekarang ini sebenarnya didasarkan pada data kelahiran di Prancis antara tahun 1670 sampai 1830.
Hal yang sama juga diutarakan Twenge tentang hasil studi yang dipublikasikan dalam Human Reproduction Journal pada tahun 2004. Pasalnya studi yang menyatakan bahwa satu dari tiga wanita berusia 35-39 tahun takkan bisa hamil setelah satu tahun mencoba ini juga menggunakan sumber data yang tidak update.
Menurut Twenge, lebih baik para wanita modern mempercayai laporan studi terkini. Kemudian Twenge mencontohkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetrics & Gynecology pada tahun 2004. Studi yang dipimpin oleh David Dunson ini bermaksud mempelajari peluang kehamilan 770 wanita Eropa.
Dari studi ini terungkap bahwa 82 persen partisipan berusia 35-39 tahun yang bercinta sedikitnya dua kali seminggu tetap bisa hamil dalam kurun setahun, meski persentasenya masih berada di bawah partisipan berusia 27-34 tahun yang jumlahnya mencapai 86 persen.
Tapi hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan wanita di akhir usia 20-an dan awal 30-an sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Justru temuan studi ini cukup memberi harapan bagi para wanita yang takut kehilangan kesempatan menjadi ibu karena waktunya dihabiskan untuk kesibukan yang lain.
Twenge menuturkan bahwa masalah kesuburan bukanlah semata disebabkan oleh faktor usia, tetapi lebih kepada gangguan seperti endometriosis dan penyumbatan tuba fallopi yang lebih sering menyebabkan wanita sulit hamil.
Tentu saja, teori yang diajukan Twenge ini mendapat kritikan dari sejumlah pakar yang bersikeras bahwa usia memberikan efek yang signifikan terhadap tingkat kesuburan wanita. Salah satunya Lord Winston yang mengklaim dari data rekam medis yang dikumpulkan selama 20 tahun terbukti adanya penurunan tingkat kesuburan seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini dikemukakan Winston kepada Time.
Surat kabar itu juga melaporkan bahwa ginekolog dan konsultan obstetri, Valentine Akende pun sepakat bahwa secara umum tingkat kesuburan wanita akan mulai merosot saat usianya mencapai 31 tahun, menurun di usia 37 dan 'jatuh' setelah usianya 41 tahun.
(mer/vta)










































