7 Kondisi 'Mengerikan' yang Terjadi Saat Kehamilan dan Persalinan

7 Kondisi 'Mengerikan' yang Terjadi Saat Kehamilan dan Persalinan

- detikHealth
Kamis, 10 Okt 2013 12:35 WIB
7 Kondisi Mengerikan yang Terjadi Saat Kehamilan dan Persalinan
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

1. Prolapse Rectal dan Genitourinary

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Saat persalinan, ibu yang melahirkan secara normal harus mengeluarkan tenaga untuk mendorong bayinya keluar. Gerakan ini biasanya harus dipandu petugas medis, karena bila salah malapetaka pada organ yang akan terjadi.

Pelemahan ligamen dan otot yang disebabkan oleh tekanan pada saat persalinan dapat menyebabkan dua kondisi yang disebut rectal  prolapse and genitourinary prolapse. Kondisi ini membuat usus atau rahim turun, membuat penampilan yang tidak diinginkan pada luar anus atau vagina. Hal ini dapat diobati dengan pembedahan, tapi mungkin menyebabkan ketidaknyamanan pada perempuan.

2. Episiotomi

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Ini merupakan salah satu prosedur 'mengerikan' saat persalinan. Episiotomi adalah insisi atau sayatan yang dibuat dalam jaringan antara pembukaan vagina dan anus (perineum) selama persalinan. Selama bertahun-tahun episiotomi menjadi bagian rutin dari proses melahirkan, tapi kini tidak semua persalinan normal memerlukan episiotomi.

Episiotomi bisa menyebabkan ketidaknyamanan, termasuk pada saat pemulihan. Aktivitas sederhana seperti duduk atau berdiri bisa dirasa sangat menyiksa bagi wanita.

3. Ketidakcocokan Rhesus

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Selama kehamilan, sejumlah kecil darah bayi dapat memasuki sistem sirkulasi darah ibu. Demikian pula pada saat proses persalinan, sistem sirkulasi darah ibu dapat terpapar dengan darah bayi melalui luka-luka persalinan.

Situasi yang berpotensi bahaya adalah bila seorang ibu hamil dengan Rh- (rhesus negatif) memiliki janin dengan Rh+ (rhesus positif). Dalam situasi ini ibu akan membentuk antibodi anti-Rh yang dipicu oleh masuknya Rh+ dari darah bayi ke dalam sirkulasi ibu. Antibodi anti-Rh si ibu ini dapat menembus sirkulasi darah bayi dan menghancurkan sel-sel darah bayi.

Situasi ini dapat terjadi dengan gejala-gejala ringan yang hanya ditandai dengan anemia ringan pada bayi, hingga parah yang dapat menyebabkan kematian bayi. Efek bahaya dari pembentukan antibodi anti-Rh ini dapat terjadi pada kehamilan pertama, di mana bayinya Rh+, maupun pada kehamilan kedua (dengan antibodi yang dibentuk dari kehamilan pertama).

4. Amniotomi

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Amniotomi adalah teknik bedah untuk memecahkan kantung ketuban, yang dilakukan dengan cara mengait membran kantung agar terbuka. Ini adalah prosedur yang kontroversial, tetapi dapat memiliki banyak manfaat jika persalinan yang lama atau masalah dengan cairan ketuban yang dapat mengancam kesehatan bayi.

5. Meconium Staining

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Kebanyakan bayi cukup sopan untuk menahan diri dari buang kotoran  sampai ia lahir dan berada di luar tubuh ibunya. Tetapi sekitar 10-15 persen, janin ternyata juga bisa buang air besar saat masih di dalam rahim.

Kondisi janin buang kotoran dalam rahim disebut dengan meconium, yang terjadi ketika cairan hitam-kehijauan yang dikeluarkan bersama cairan ketuban saat mendekati masa persalinan.

Selain menyebabkan cairan ketuban menjadi kotor, kondisi ini dapat mengakibatkan kondisi serius pada bayi, yang disebut meconium aspiration syndrome, yang menyebabkan bayi kesulitan untuk bernapas.

6. Masalah Plasenta

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Plasenta adalah organ yang tumbuh dalam rahim bersama janin dan menyediakan nutrisi, oksigen, dan banyak hal yang lebih penting melalui tali pusat.

Secara teori, plasenta menempel tinggi di dalam rahim. Tapi kadang-kadang organ ini 'mengembara' di mana pun ia suka. Plasenta abruptio dan plasenta previa adalah dua masalah terbesar.

Plasenta abruptio adalah ketika plasenta sebagian atau seluruhnya lepas dan keluar jauh dari dinding rahim, yang dapat menyebabkan semua jenis masalah. Sedangkan plasenta previa terjadi ketika plasenta menolak untuk bergerak sendiri, berada di bagian bawah rahim, kadang-kadang menutupi leher rahim, yang bisa menjadi perhatian cukup besar karena merupakan jalan lahir bayi.

7. Topeng Kehamilan

Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Melasma, juga dikenal sebagai 'topeng kehamilan,' terjadi ketika peningkatan estrogen dan progesteron membuang reseptor melanin secara berlebihan, menyebabkan hiperpigmentasi. Hasilnya kulit wajah dan tubuh menjadi lebih gelap, kotor, yang paling sering terjad di pipi dan dahi.
Halaman 2 dari 8
Saat persalinan, ibu yang melahirkan secara normal harus mengeluarkan tenaga untuk mendorong bayinya keluar. Gerakan ini biasanya harus dipandu petugas medis, karena bila salah malapetaka pada organ yang akan terjadi.

Pelemahan ligamen dan otot yang disebabkan oleh tekanan pada saat persalinan dapat menyebabkan dua kondisi yang disebut rectal  prolapse and genitourinary prolapse. Kondisi ini membuat usus atau rahim turun, membuat penampilan yang tidak diinginkan pada luar anus atau vagina. Hal ini dapat diobati dengan pembedahan, tapi mungkin menyebabkan ketidaknyamanan pada perempuan.

Ini merupakan salah satu prosedur 'mengerikan' saat persalinan. Episiotomi adalah insisi atau sayatan yang dibuat dalam jaringan antara pembukaan vagina dan anus (perineum) selama persalinan. Selama bertahun-tahun episiotomi menjadi bagian rutin dari proses melahirkan, tapi kini tidak semua persalinan normal memerlukan episiotomi.

Episiotomi bisa menyebabkan ketidaknyamanan, termasuk pada saat pemulihan. Aktivitas sederhana seperti duduk atau berdiri bisa dirasa sangat menyiksa bagi wanita.

Selama kehamilan, sejumlah kecil darah bayi dapat memasuki sistem sirkulasi darah ibu. Demikian pula pada saat proses persalinan, sistem sirkulasi darah ibu dapat terpapar dengan darah bayi melalui luka-luka persalinan.

Situasi yang berpotensi bahaya adalah bila seorang ibu hamil dengan Rh- (rhesus negatif) memiliki janin dengan Rh+ (rhesus positif). Dalam situasi ini ibu akan membentuk antibodi anti-Rh yang dipicu oleh masuknya Rh+ dari darah bayi ke dalam sirkulasi ibu. Antibodi anti-Rh si ibu ini dapat menembus sirkulasi darah bayi dan menghancurkan sel-sel darah bayi.

Situasi ini dapat terjadi dengan gejala-gejala ringan yang hanya ditandai dengan anemia ringan pada bayi, hingga parah yang dapat menyebabkan kematian bayi. Efek bahaya dari pembentukan antibodi anti-Rh ini dapat terjadi pada kehamilan pertama, di mana bayinya Rh+, maupun pada kehamilan kedua (dengan antibodi yang dibentuk dari kehamilan pertama).

Amniotomi adalah teknik bedah untuk memecahkan kantung ketuban, yang dilakukan dengan cara mengait membran kantung agar terbuka. Ini adalah prosedur yang kontroversial, tetapi dapat memiliki banyak manfaat jika persalinan yang lama atau masalah dengan cairan ketuban yang dapat mengancam kesehatan bayi.

Kebanyakan bayi cukup sopan untuk menahan diri dari buang kotoran  sampai ia lahir dan berada di luar tubuh ibunya. Tetapi sekitar 10-15 persen, janin ternyata juga bisa buang air besar saat masih di dalam rahim.

Kondisi janin buang kotoran dalam rahim disebut dengan meconium, yang terjadi ketika cairan hitam-kehijauan yang dikeluarkan bersama cairan ketuban saat mendekati masa persalinan.

Selain menyebabkan cairan ketuban menjadi kotor, kondisi ini dapat mengakibatkan kondisi serius pada bayi, yang disebut meconium aspiration syndrome, yang menyebabkan bayi kesulitan untuk bernapas.

Plasenta adalah organ yang tumbuh dalam rahim bersama janin dan menyediakan nutrisi, oksigen, dan banyak hal yang lebih penting melalui tali pusat.

Secara teori, plasenta menempel tinggi di dalam rahim. Tapi kadang-kadang organ ini 'mengembara' di mana pun ia suka. Plasenta abruptio dan plasenta previa adalah dua masalah terbesar.

Plasenta abruptio adalah ketika plasenta sebagian atau seluruhnya lepas dan keluar jauh dari dinding rahim, yang dapat menyebabkan semua jenis masalah. Sedangkan plasenta previa terjadi ketika plasenta menolak untuk bergerak sendiri, berada di bagian bawah rahim, kadang-kadang menutupi leher rahim, yang bisa menjadi perhatian cukup besar karena merupakan jalan lahir bayi.

Melasma, juga dikenal sebagai 'topeng kehamilan,' terjadi ketika peningkatan estrogen dan progesteron membuang reseptor melanin secara berlebihan, menyebabkan hiperpigmentasi. Hasilnya kulit wajah dan tubuh menjadi lebih gelap, kotor, yang paling sering terjad di pipi dan dahi.

(mer/vit)

Berita Terkait