"Hamil itu tidak mudah," kata Dr. dr Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), Koordinator Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM dalam seminar publik 'Quo Vadis Angka Kematian Ibu?', di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Senin (18/11/2013).
"Terutama badan sang ibu. Harus sehat 100 persen. Kalau tentara saja harus tes fisik ini itu sebelum perang, seorang ibu juga harus dipastikan siap 'berperang' untuk hamil. Berat badan ideal, tekanan darah normal, tidak anemia, dan lain-lain. Tidak boleh sembarangan hamil," papar perempuan yang akrab disapa dr Ovi ini.
dr Ovi mengatakan kecenderungan yang ia amati selama ini, ibu baru mengunjungi dokter ketika sudah positif hamil ataupun sudah mengalami keluhan dalam masa hamilnya. Kebanyakan ibu hamil datang ke dokter dengan 'membawa' berbagai masalah kesehatan seperti hipertensi, kurang gizi, maag, dan lainnya. Padahal menurut dr Ovi, harusnya kondisi itu harus sudah ditangani sejak sang ibu masih mempersiapkan kehamilan.
Kasus yang paling banyak terjadi dalam peristiwa kematian ibu, imbuh dr Ovi, adalah kejang-kejang, pendarahan, dan infeksi. Ia juga menambahkan sebenarnya akan lebih baik jika calon ibu dan calon ayah bertemu dengan dokter kandungan sebelum berencana memiliki momongan.
"Mau berkendara saja harus punya SIM (Surat Izin Mengemudi), harusnya hamil juga ada 'surat izinnya', karena hamil itu lebih berbahaya daripada menyetir. Ha ha ha," canda dr Ovi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(/)










































