Mempersiapkan Kehamilan Harusnya Seperti Mempersiapkan Perang

Mempersiapkan Kehamilan Harusnya Seperti Mempersiapkan Perang

Vela Andapita - detikHealth
Senin, 18 Nov 2013 19:05 WIB
Mempersiapkan Kehamilan Harusnya Seperti Mempersiapkan Perang
Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Kehamilan adalah suatu peristiwa menakjubkan yang dialami perempuan. Bagaimana tidak, di rahimnya tengah di kandung calon manusia baru. Karena itu kehamilan harus disiapkan dengan matang. Bahkan tidak berlebihan jika mempersiapkan kehamilan tak ubahnya seperti mempersiapkan perang.

"Hamil itu tidak mudah," kata Dr. dr Dwiana Ocviyanti, Sp.OG(K), Koordinator Pendidikan Dokter Spesialis Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM dalam seminar publik 'Quo Vadis Angka Kematian Ibu?', di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl Salemba Raya, Senin (18/11/2013).
 
"Terutama badan sang ibu. Harus sehat 100 persen. Kalau tentara saja harus tes fisik ini itu sebelum perang, seorang ibu juga harus dipastikan siap 'berperang' untuk hamil. Berat badan ideal, tekanan darah normal, tidak anemia, dan lain-lain. Tidak boleh sembarangan hamil," papar perempuan yang akrab disapa dr Ovi ini.

dr Ovi mengatakan kecenderungan yang ia amati selama ini, ibu baru mengunjungi dokter ketika sudah positif hamil ataupun sudah mengalami keluhan dalam masa hamilnya. Kebanyakan ibu hamil datang ke dokter dengan 'membawa' berbagai masalah kesehatan seperti hipertensi, kurang gizi, maag, dan lainnya. Padahal menurut dr Ovi, harusnya kondisi itu harus sudah ditangani sejak sang ibu masih mempersiapkan kehamilan.
 
Kasus yang paling banyak terjadi dalam peristiwa kematian ibu, imbuh dr Ovi, adalah kejang-kejang, pendarahan, dan infeksi. Ia juga menambahkan sebenarnya akan lebih baik jika calon ibu dan calon ayah bertemu dengan dokter kandungan sebelum berencana memiliki momongan.
 
"Mau berkendara saja harus punya SIM (Surat Izin Mengemudi), harusnya hamil juga ada 'surat izinnya', karena hamil itu lebih berbahaya daripada menyetir. Ha ha ha," canda dr Ovi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah di dunia ibu dan anak yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia adalah melonjaknya angka kematian ibu di Indonesia. Pada 2007, angka kematian ibu adalah 228 kasus per 100.000 kelahiran. Sedangkan pada 2012, angka tersebut melonjak menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab antara lain gagalnya program Keluarga Berencana, banyaknya jumlah perempuan yang menikah dan melahirkan di usia di bawah 20 tahun, serta akses dan manajemen pelayanan kesehatan terkait kandungan dan kebidanan.



(/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads