Tidak setiap pasangan suami istri bisa cepat mendapat momongan. Gaya hidup yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai masalah kesuburan. Pasangan dengan kondisi tertentu bahkan hanya bisa memiliki keturunan dengan jalan bayi tabung.
Prosedur bayi tabung atau In vitro Fertilization (IVF) merupakan proses pembuahan sel telur dan sperma yang dilakukan di luar tubuh wanita, yaitu di dalam tabung dengan media kultur. Sel telur atau sperma akan dipanen langsung dari 'pabriknya' yang kemudian dipertemukan di luar tubuh dan tumbuh jadi embrio. Embrio inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam rahim ibu dan tumbuh berkembang menjadi janin atau calon bayi.
Pada dasarnya, prosedur bayi tabung merupakan jalan terakhir yang dapat ditempuh bila pasangan suami istri benar-benar tidak mampu melakukan pembuahan secara natural. Namun, prosedur bayi tabung juga bisa meningkatkan peluang kehamilan pada pasutri dengan gangguan sel telur atau sperma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria Azoospermia masih bisa 'ditolong' dengan menggunakan teknologi ICSI (Intra-cytoplasmic Sperm Injection), yang masuk ke dalam prosedur bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF). Dengan teknologi ini, sperma yang nihil di air mani akan langsung dicari lewat jalan operasi di saluran sperma (epididymis) atau testis sebagai 'pabriknya'. Sperma tersebut akan dibekukan dan langsung disuntikkan pada sel telur lewat proses bayi tabung.
Hal yang sama juga dilakukan pada wanita dengan kondisi saluran telur tersumbat. Sel telur akan dipanen langsung dari 'pabriknya' di ovarium.
"Kalau pria yang jumlah spermanya sedikit, masih bisa terjadi pembuahan natural, tapi peluangnya hanya 2 sampai 4 persen," tambah dr Ivan.
Peluang kehamilan tersebut, lanjut dr Ivan, bisa ditingkatkan dengan teknologi berbantu, yakni inseminasi dan prosedur bayi tabung. Dengan inseminasi, peluang kehamilan bisa meningkat menjadi 15 persen, sedangkan dengan prosedur bayi tabung peluang kehamilan bisa meningkat jadi 40 hingga 50 persen.
"Jadi inseminasi bisa meningkatkan peluang jadi 3 kali lipat. Nah, kalau bayi tabung peluangnya meningkat 20 hingga 25 persen," tutup dr Ivan.
(mer/)










































