Sesaat sebelum persalinan Lisa pun masuk Stoke Mandeville Hospital, Buckinghamshire pada tanggal 19 Agustus 2010 pukul 11.20 pagi waktu setempat. Saat itu ia tak punya firasat sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ia telah menjalani cardiotocograph (CTG) untuk mengukur detak jantung si bayi berikut kondisi kontraksinya. Namun tim medis mengatakan hasil tes Lisa normal, artinya tak ada perlu dikhawatirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa pakar independen sepakat bila Findley seharusnya tak boleh dilahirkan hingga melebihi jam 2 siang waktu setempat. Namun ternyata baru pada pukul 11.25 malam waktu setempat, tim medis mendeteksi ada yang salah dengan kehamilan Lisa. Saat itu juga ia baru dilarikan ke ruang operasi untuk menjalani operasi Caesar.
Findley akhirnya lahir pada tanggal 20 Agustus 2010 pukul 12.27 malam waktu setempat dan langsung dilarikan ke ICU spesialis di John Radcliffe Infirmary, Oxford.
Tiga dokter kemudian mendiagnosisnya dengan Hypoxic Ischemic Encephalopathy (HIE) stadium tiga dan kerusakan permanen pada kedua ginjalnya. Padahal HIE stadium tiga atau HIE global adalah kerusakan otak kedua yang paling parah dari segala jenis gangguan otak.
Kondisi ini terjadi ketika oksigen terhalang mencapai otak setelah aliran darah si penderita terhambat. Seseorang yang mengalami hal ini juga bisa menderita stroke atau serangan jantung.
"Kami patah hati, padahal ada banyak kesempatan untuk menemukan masalahnya. Kami sudah ditemui oleh sedikitnya enam dokter dan bidan tapi tak ada yang melihat tanda-tanda peringatan. Mereka hanya berkeliaran kesana-kemari, tak ada urgensi. Dan ketika mereka menemukannya, ini sudah terlambat," kisah Lisa seperti dilansir Daily Mail, Rabu (8/1/2014).
Yang mengenaskan, karena dibiarkan selama berjam-jam otak Findley kekurangan oksigen sehingga ketika lahir otaknya sudah mengalami kerusakan parah. Sejak saat itu Findley didiagnosis dengan cerebral palsy karena HIE yang dialaminya. Findley tak bisa berjalan, bicara, duduk dan minum sendiri, di samping gangguan ginjal kronis yang dialaminya.
"Kelahiran anak pertama seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi siapapun tapi saya justru menangis selama berminggu-minggu. Saya begitu marah karena ini tak seharusnya terjadi pada putra saya. Saya takkan bisa memaafkan mereka, bahkan setelah mereka memohon maaf," tambahnya.
Lisa sendiri harus melepaskan pekerjaannya untuk merawat putra tunggalnya itu. Menurutnya di usia semuda itu Findley harus mengonsumsi 13 jenis obat yang berbeda setiap harinya dan harus didampingi selama 24 jam penuh.
Pada bulan Oktober 2012, Lisa dan Stuart Mainds akhirnya mengajukan gugatan hukum kepada Buckinghamshire NHS Trust yang mengakui bahwa cacat yang dialami Findley merupakan kesalahan mereka. Dan itu bisa dihindari bila Mrs Mainds menerima standar penanganan selama persalinan dengan benar.
Rumah sakit itu pun memberikan ganti rugi jutaan rupiah kepada keluarga Mainds, termasuk kompensasi penuh untuk membiayai pengobatan Findley seumur hidup, termasuk mencarikan donor ginjal bila sewaktu-waktu bocah ini membutuhkan transplantasi.
"Seluruh uang kompensasi itu tak ada artinya bagi saya. Yang saya tahu Findley kehilangan masa kecilnya yang normal. Begitu pula masa depannya yang direnggut oleh cedera dan kealpaan itu," keluh Lisa.
(lll/)










































