Pada kehamilan anak pertama, seorang wanita biasanya akan mencari tahu sebanyak-banyaknya informasi seputar kehamilan, rutin memeriksakan diri ke dokter, bahkan selalu ditemani sang suami. Namun pada kehamilan kedua, ketiga dan seterusnya, kunjungan ke dokter semakin jarang. Hal ini karena banyak wanita yang merasa semakin sering hamil dirinya akan semakin piawai.
"Makin sering hamil banyak wanita yang merasa makin piawai. Padahal makin sering melahirkan risiko perdarahan justru makin tinggi," papar Dr dr Dwiana Ocviyanti, SpOG (K), dari Departemen Obstetri Ginekologi FKUI/RSCM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia paling banyak disebabkan oleh perdarahan selama kehamilan dan pasca melahirkan. Nah, bila seorang ibu semakin sering hamil, artinya risiko kematiannya pun akan semakin tinggi.
Menurut dr Ovi, rahim hampir sama dengan karet. Ketika hamil, ukurannya akan meregang dan membesar, kemudian kembali mengkerut setelah persalinan. Semakin sering hamil maka rahim semakin sering meregang. Ibarat karet, lama-lama rahim bisa kehilangan 'elastisitas' dan tidak bisa kembali mengkerut bila sang ibu terlalu sering hamil. Inilah yang membuatnya berisiko tinggi mengalami perdarahan dan kematian.
"Belum ada cara pencegahan primernya (perdarahan). Kematian ibu terjadi karena perdarahan yang terjadi amat banyak dan terjadi dalam waktu cepat," papar dr Ovi.
dr Ovi menjelaskan bahwa penyebab utama perdarahan pada trimester 3 adalah plasenta previa (plasenta menutupi jalan lahir) dan solutio plasentae (plasenta yang lepas dari dinding rahim). Juga ada risiko perdarahan yang terjadi pasca persalinan.
"Perdarahan bisa terjadi pada semua wanita hamil. Makanya AKI susah diturunkan, karena masyarakat kita gemar hamil dan menghamili," candanya.
(/)











































