Kasus pertama dilaporkan tim peneliti dari Mohammed V University di Maroko. Seorang wanita berusia 25 tahun mengaku pandangannya kabur dan seperti melihat kilatan cahaya di kedua matanya ketika usia kehamilannya memasuki minggu ke-36.
Dari pemeriksaan diketahui bagian belakang matanya mengalami kerusakan, termasuk pembengkakan pada saraf optiknya. Hasil tes lain juga menunjukkan wanita yang baru mengandung anak pertamanya itu mengalami tekanan darah yang sangat tinggi, begitu juga dengan kandungan protein dalam urinnya, padahal kondisi semacam ini sama sekali tak wajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu-satunya solusi untuk calon ibu yang mengalami preeklamsia adalah melahirkan si bayi secara Caesar. Dan beruntung bayi berjenis kelamin laki-laki ini lahir dengan selamat dan dinyatakan sehat meski berat lahirnya rendah. Tiga bulan kemudian, penglihatan wanita ini pun kembali normal.
Kasus kedua juga dialami seorang wanita berusia 25 tahun. Bedanya, ia menemukan sebuah titik hitam di dalam matanya setelah muntah-muntah di minggu ke-11 kehamilannya. Dari pemeriksaan diketahui salah satu pembuluh darah di mata kirinya pecah ketika ia memaksakan muntah pagi itu, mengakibatkan pendarahan di matanya.
Menurut Dr Netan Choudhry yang menangani wanita ini, muntah-muntah yang 'dipaksakan' dapat meningkatkan tekanan darah si wanita hamil, termasuk tekanan pada pembuluh darah di dalam matanya. "Inilah yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah di mata lalu darahnya terjebak di dalam mata," tambahnya seperti dilansir Livescience, Kamis (20/2/2014).
Bahkan direktur bedah vitreoretinal dari Herzig Eye Institute, Toronto ini juga mengatakan tak hanya muntah, batuk, bersin atau mengejan terlalu keras juga dapat memecahkan pembuluh darah.
Beruntung cedera yang dialami wanita asal Kanada tersebut hanya perlu dipantau dan tak membutuhkan pengobatan khusus. Dalam waktu lima bulan, tubuh wanita ini bisa pulih sendiri, meski Dr Choudhry mengakui pada kasus tertentu, sejumlah pasien harus dioperasi agar darah yang terjebak di mata tadi bisa hilang.
Laporan tentang kedua kasus tersebut dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine.










































