Selasa, 04 Mar 2014 13:46 WIB

Perlu Disimak, Mitos dan Fakta Kesehatan Seputar Kehamilan

- detikHealth
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Anda sedang berbadan dua? Wah, selamat ya. Tak lama lagi si Kecil akan semakin menyemarakkan hari-hari Anda. Nah, selama periode kehamilan Anda pasti banyak mendengar dari orang-orang sekitar tentang sesuatu yang sebaiknya dilakukan dan yang dipantang. Sepintas ada yang terdengar masuk akal, tapi tidak semua yang Anda dengar itu benar.

Berikut ini daftar mitos dan fakta seputar kehamilan yang masih sering sering didengar, seperti dikutip dari WebMD, Selasa (4/3/2014):

1. Anda Harus Mengasup Suplemen Khusus

Saran ini adalah benar.

NHS merekomendasikan agar Anda mengonsumsi 10 mikrogram vitamin D setiap hari selama masa kehamilan dan menyusui. Penting juga untuk mengasup 400 mikrogram asam folat sebelum kehamilan atau saat berupaya untuk hamil. Asupan ini penting diasup saat 12 minggu pertama kehamilan guna membantu melindungi bayi Anda dari cacat sumsum tulang belakang.

Makan lima porsi buah dan sayuran dalam sehari, ditambah ikan berlemak, protein tanpa lemak dan karbohidrat berkualitas tinggi juga dianjurkan. Dokter atau bidan Anda biasanya merekomendasikan asupan suplemen tertentu jika pola makan Anda belum cukup ideal.

2. Dilarang Makan Kacang

Saran ini salah.

Beberapa ibu hamil menghindari asupan kacang-kacangan untuk menghindari alergi pada bayinya yang belum lahir. Padahal kacang-kacangan merupakan asupan yang sehat bagi perempuan yang sedang berupaya hamil atau yang sedang hamil. Kecuali bagi perempuan yang memang alergi pada kacang, memang sebaiknya menghindari makanan ini.

3. Sering Lupa

Pendapat ini benar.

Ilmuwan di University of New South Wales, Australia, melaporkan bahwa perempuan hamil mengalami masalah dengan memorinya. Misalnya saja perempuan hamil yang mereka teliti lebih sulit untuk mengingat nomor telepon baru. Bahkan banyak perempuan yang masih menderita masalah memori sampai satu tahun setelah melahirkan. Para peneliti masih menduga-duga mengapa hal ini terjadi. Tapi mereka menduga bahwa kurang tidur memainkan peran. Selain itu fokus ibu hamil pada calon bayinya membuat mereka kurang fokus pada hal lainnya.

4. Harus Jauh-jauh dari Kopi

Saran ini salah.

Kafein berlebihan tidak saja buruk bagi ibu hamil, tapi juga bagi siapapun yang tidak sedang berbadan dua. Sebenarnya bisa-bisa saja ibu hamil mengonsumsi kopi yang mengandung kafein, tapi perlu diperhatikan kuantitasnya. Terlalu banyak kafein, yang mana kandungan ini ditemukan pula dalam teh, cola, dan cokelat, bisa meningkatkan risiko keguguran. NHS merekomendasikan 200 mg kafein dalam sehari atau setara dengan dua cangkir kopi instan.

5. Anda Harus Makan 2 Porsi

Saran ini salah.

Memang benar, saat hamil, di rahim Anda ada calon manusia baru yang membutuhkan nutrisi cukup. Tapi itu bukan berarti Anda harus makan dua porsi. Sebab faktanya kebutuhan energi tidak berubah dalam enam bulan pertama kehamilan. Pertambahan energi yang dibutuhkan pun meningkat perlahan, sekitar 200 kalori per hari di tiga bulan terakhir.

Ketimbang makan dua porsi di satu kesempatan, sebaiknya Anda bagi porsi makan Anda menjadi lebih kecil, namun lebih sering diasup. Jangan lupa, asuplah makanan yang kaya nutrisi, jangan hanya makanan yang Anda sukai saja.

6. Olahraga Itu Aman

Pendapat ini benar.

Jika Anda termasuk perempuan yang aktif sebelum dan selama kehamilan, maka Anda termasuk orang yang berisiko rendah terganggu kehamilannya. Yang terpenting adalah jangan memaksakan diri melakukan kegiatan fisik, pilihlah olahraga yang nyaman bagi kondisi Anda. Jangan lupa, tubuh harus selalu terhidrasi dengan baik. Jika khawatir dengan 'menu latihan' Anda, ada baiknya menghubungi dokter atau bidan untuk mengkonsultasikan jenis olahraga yang aman.

7. Berhubungan Seks Itu Dilarang

Pendapat ini salah.

Jika Anda tidak mengalami flek atau pendarahan pada saat hamil, artinya kehamilan Anda memiliki risiko yang rendah. Nah, dalam kondisi ini, bercinta dengan suami bukan sesuatu yang salah. Seks pada kehamilan yang berisiko rendah tidak akan membahayakan janin. Bahkan ditengari seks bisa meningkatkan aliran darah di panggul.

Sedangkan untuk perempuan yang kehamilannya memiliki risiko tinggi, misalnya yang sebelumnya pernah beberapa kali keguguran atau memiliki pendarahan vagina, sebaiknya berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum melakukan hubungan seks.

8. Posisi Baby Bump Rendah Artinya Hamil Janin Laki-laki

Pendapat ini salah.

Kondisi baby bump atau membuncitnya perut ibu hamil tidak serta-merta mengindikasikan jenis kelamin janin. Posisi janinlah yang sebenarnya menentukan bentuk perut ibu hamil. Jika bayi bergerak atau berubah posisi maka perut si ibu bisa berubah.

Apakah besar dan kecilnya perut ibu hamil juga mengindikasikan jenis kelamin janin? Menurut dr Aryando Pradana SpOG, seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, rahim akan membesar. Nah bagian atas dari rahim atau yang biasa disebut fundus juga ikut menonjol.

"Misal ketika usia kehamilan 20 minggu, tingginya sampai di pusar. Tapi, ada juga wanita yang perutnya besar sebelum usia kehamilan 20 minggu, hal ini dikarenakan lapisan lemak di perutnya yang tebal," papar dokter yang biasa disapa dr Nando ini saat berbincang dengan detikHealth beberapa waktu lalu.

Pada dasarnya, proporsi rahim antara satu wanita dengan yang lainnya ketika mengandung sama saja. Hanya saja, lapisan lemak yang ada di perut tiap wanita membuat besarnya perut terlihat berbeda.

9. Morning Sickness Parah Artinya Hamil Janin Perempuan

Pendapat ini salah.

Memang tidak semua ibu hamil mengalami morning sickness. Tapi bukan berarti ibu hamil yang mengalami morning sickness parah mengindikasikan sedang hamil janin perempuan. Kebingungan akan hal ini muncul karena perempuan dengan hiperemesis gravidarum (mual dan muntah yang berlebihan yang mana mempengaruhi tiga dari 1.000 perempuan) lebih sering melahirkan bayi perempuan.

10. Proses Kelahiran Normal adalah yang Terbaik

Pendapat ini salah.

Memang melahirkan normal akan membuat bayi terpapar bakteri baik saat melewati vagina. Perempuan yang melahirkan secara normal, tanpa obat-obatan atau instrumen tertentu, cenderung lebih cepat sembuh dan bayinya lebih cepat untuk belajar menyusu. Meski begitu, yang perlu menjadi prioritas adalah keselamatan ibu dan bayi, sehingga terkadang diperlukan instrumen atau tindakan tertentu untuk menjaga ibu dan bayinya tetap aman.

(vit/up)