Sebuah studi dari Norwegia menemukan kelahiran prematur dapat dicegah dengan mengonsumsi banyak sayur, buah, makanan berbahan gandum utuh serta banyak minum air putih.
Mengapa peneliti bisa menyimpulkan begitu? Peneliti telah membuktikannya dengan mengamati 66.000 wanita Norwegia yang melahirkan antara tahun 2002-2008. Mereka juga diminta mengisi sebuah kuesioner tentang pola makan mereka pada empat sampai lima bulan pertama kehamilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian 'pola makan tradisional' terdiri atas kentang rebus, ikan, kuah daging, margarin, susu rendah lemak dan sayuran yang dimasak. Sedangkan 'pola makan ala Barat' terdiri atas jajanan yang terasa gurih atau asin, cokelat, permen, kue, kentang goreng, roti tawar, minuman berpemanis buatan, produk dari daging olahan dan pasta.
Ternyata di akhir studi tercatat sebanyak 3.505 wanita mengalami persalinan prematur (5,3 persen) dan hal ini dikaitkan dengan konsumsi pola makan ala Barat. Sebaliknya ibu hamil yang mengadopsi pola makan sehat berisiko lebih kecil mengalami kelahiran prematur, terutama untuk para wanita yang melahirkan bayi pertama mereka.
Mengonsumsi pola makan tradisional juga menurunkan risiko kelahiran prematur pada ibu hamil, meski tak sebesar pola makan sehat.
"Itu berarti penting bagi para ibu hamil untuk menambah porsi makanan sehat mereka daripada hanya sekadar mengurangi asupan junk food atau makanan olahan," simpul peneliti seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (8/3/2014).
Kendati begitu, Christine Metz, peneliti obstetri dari Feinstein Institute for Medical Research, Manhasset, New York mengatakan hasil studi ini tidak serta-merta mengatakan ada kaitan langsung antara pola makan ibu hamil dengan risiko kelahiran prematur yang membayangi mereka.
"Hanya saja pola makan dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti diabetes gestasional, obesitas, preeklamsia (hipertensi saat hamil) yang pada akhirnya mempengaruhi kesehatan si calon ibu dan janinnya," tegasnya.
Faktor risiko terbesar untuk kelahiran prematur sendiri antara lain pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba, dan ibu yang pernah melahirkan kembar dua atau tiga.
(lil/vit)










































