Bayi Berada di Kandungan Lebih dari 9 Bulan, Normalkah?

Bayi Berada di Kandungan Lebih dari 9 Bulan, Normalkah?

- detikHealth
Selasa, 01 Apr 2014 11:01 WIB
Bayi Berada di Kandungan Lebih dari 9 Bulan, Normalkah?
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Pada umumnya, seorang wanita akan melahirkan setelah sembilan bulan mengandung. Namun, pada beberapa kasus, ada bayi yang baru lahir saat kandungan ibunya mencapai sepuluh bahkan 12 bulan. Normalkah?

Menurut dr Hari Nugroho SpOG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUD dr Soetomo, kehamilan berlangsung sekitar 40 minggu atau 280 hari apabila dihitung dari hari pertama haid terakhir.

Meskipun hanya empat sampai lima persen wanita yang benar-benar melahirkan normal di taksiran persalinannya. Nah, sejatinya kelahiran dikatakan normal ketika persalinan terjadi saat kandungan berusia 37 hingga 42 minggu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekitar 10 persen kehamilan melebihi usia 42 minggu atau 294 hari. Penyebab pastinya kehamilan lewat waktu hingga saat ini belum diketahui 100 persen, meskipun ada satu penelitian mengatakan bahwa faktor genetik sangat berperan dalam kehamilan lewat waktu," tutur dr Hari saat berbincang dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (1/4/2014).

Ia menambahkan anak pertama yang lahir lewat waktu normal dikatakan merupakan faktor risiko anak berikutnya kemungkinan mengalami hal yang sama yakni lahir di luar waktu yang normal.

Di masyarakat pun tak jarang beredar berbagai kepercayaan terkait kelahiran bayi, misalnya mengonsumsi minyak kelapa atau sang ibu sering-sering mengambil posisi menungging agar kelahirannya bisa lancar.

Menanggapi hal ini, dr Hari mengatakan hingga saat ini dirinya belum pernah membaca penelitian ilmiah bahwa minum minyak kelapa mengakibatkan persalinan lancar. Pun secara logika medis, dr Hari merasa dua hal itu tidak ada hubungannya.

"Kalau masalah nungging, sebetulnya bukan ibunya sekadar nungging. Secara ilmiah, senam hamil dengan metode tertentu dikatakan dapat meningkatkan kesiapan ibu menghadapi kehamilan normal. Sehingga, dengan meningkatkan kecepatan kelahiran, risiko komplikasi akibat kehamilan normal juga bisa dikurangi," papar dr Hari.

(rdn/vit)

Berita Terkait