Daftar Dampak Buruk yang Bisa Terjadi Akibat Stres Saat Hamil

Daftar Dampak Buruk yang Bisa Terjadi Akibat Stres Saat Hamil

- detikHealth
Kamis, 10 Apr 2014 12:02 WIB
Daftar Dampak Buruk yang Bisa Terjadi Akibat Stres Saat Hamil
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Stres berkepanjangan tidak baik bagi siapapun, tidak terkecuali ibu hamil. Terlebih lagi seorang perempuan hamil mengandung anak di rahimnya, sehingga kondisi ibu akan sedikit banyak berpengaruh pada anaknya.

Nah, berikut ini beberapa dampak buruk stres yang bisa terjadi akibat stres saat hamil, seperti dirangkum detikHealth pada Kamis (10/4/2014):

Foto: Ilustrasi/Thinkstock

1. Anak Rentan Asma

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Dr Petra Arck dan rekan-rekannya dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, seusai melakukan pengamatan terhadap 1.578 pasang ibu dan anak yang ambil bagian dalam sebuah studi di Australia menyebut  peluang anak mengidap asma atau eksim terlihat lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya mengalami satu atau beberapa kejadian tak mengenakkan di paruh kedua masa kehamilan mereka. Anak-anak ini berpeluang dua kali lipat mengidap asma di usia 14 tahun saat remaja, bukannya di usia 6 tahun.

Meski demikian tidak semua orang sependapat dengan kesimpulan ini. Alet H. Wijga dari National Institute for Public Health and Environment, Bilthoven, Belanda memperingatkan stres bukanlah penyebab utama asma dan eksim pada anak.

"Bisa jadi masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal nomaden (berpindah-pindah) berkaitan dengan perceraian orang tuanya atau salah satu orang tua meninggal memberikan dampak jangka panjang pada posisi sosio-ekonomi si ibu dan anak, sehingga anak ini tumbuh menjadi remaja yang selalu dihadapkan pada masalah atau tumbuh di dalam lingkungan yang tak kondusif," terang Alet.

1. Anak Rentan Asma

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Dr Petra Arck dan rekan-rekannya dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, seusai melakukan pengamatan terhadap 1.578 pasang ibu dan anak yang ambil bagian dalam sebuah studi di Australia menyebut  peluang anak mengidap asma atau eksim terlihat lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya mengalami satu atau beberapa kejadian tak mengenakkan di paruh kedua masa kehamilan mereka. Anak-anak ini berpeluang dua kali lipat mengidap asma di usia 14 tahun saat remaja, bukannya di usia 6 tahun.

Meski demikian tidak semua orang sependapat dengan kesimpulan ini. Alet H. Wijga dari National Institute for Public Health and Environment, Bilthoven, Belanda memperingatkan stres bukanlah penyebab utama asma dan eksim pada anak.

"Bisa jadi masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal nomaden (berpindah-pindah) berkaitan dengan perceraian orang tuanya atau salah satu orang tua meninggal memberikan dampak jangka panjang pada posisi sosio-ekonomi si ibu dan anak, sehingga anak ini tumbuh menjadi remaja yang selalu dihadapkan pada masalah atau tumbuh di dalam lingkungan yang tak kondusif," terang Alet.

2. Perkembangan Janin Terhambat

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Stres yang dialami bersamaan dengan berat badan rendah pada saat sedang mengandung dan defisiensi gizi tidak boleh diremehkan.  akan memberikan dampak buruk jangka pendek pada janin dan anak di bawah usia 2 tahun. Dampaknya adalah perkembangan janin yang terhambat, di mana kondisi itu akan mempengaruhi ukuran dan komposisi tubuh atau organ, termasuk otak dan organ internal.

Anak yang tidak memiliki asupan cukup mudah mengalami obesitas, stamina tubuh yang rendah, sehingga mudah terkena infeksi. Sementara itu dampak jangka panjangnya, di masa depan mereka akan menderita hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan bayi dapat berkembang dengan baik, seorang ibu harus mengontrol berat badannya selama dalam masa kehamilan, makan makanan yang cukup dan seimbang, mendapat asupan suplemen yang mengandung asam folat, zat besi, kalsium, yodium dan vitamin D, olahraga yang cukup, menghindari rokok, alkohol dan kafein, serta yang paling penting ibu yang hamil harus tetap gembira.

2. Perkembangan Janin Terhambat

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Stres yang dialami bersamaan dengan berat badan rendah pada saat sedang mengandung dan defisiensi gizi tidak boleh diremehkan.  akan memberikan dampak buruk jangka pendek pada janin dan anak di bawah usia 2 tahun. Dampaknya adalah perkembangan janin yang terhambat, di mana kondisi itu akan mempengaruhi ukuran dan komposisi tubuh atau organ, termasuk otak dan organ internal.

Anak yang tidak memiliki asupan cukup mudah mengalami obesitas, stamina tubuh yang rendah, sehingga mudah terkena infeksi. Sementara itu dampak jangka panjangnya, di masa depan mereka akan menderita hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan bayi dapat berkembang dengan baik, seorang ibu harus mengontrol berat badannya selama dalam masa kehamilan, makan makanan yang cukup dan seimbang, mendapat asupan suplemen yang mengandung asam folat, zat besi, kalsium, yodium dan vitamin D, olahraga yang cukup, menghindari rokok, alkohol dan kafein, serta yang paling penting ibu yang hamil harus tetap gembira.

3. Bayi 'Tercekik'

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Mengkhawatir hal-hal yang terjadi di sekeliling hanya akan menimbulkan masalah bagi janin. Stres selama kehamilan juga dapat menyebabkan lebih banyak masalah baik bagi ibu dan bayi yang sedang tumbuh di dlam janin.

Para ahli mengatakan bahwa ketika seorang perempuan mengalami stres selama kehamilan, tekanan darahnya akan meningkat, denyut jantung  berdetak lebih cepat, dan bayi cenderung 'tercekik' dalam rahim. Untuk mengontrol stres selama kehamilan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah gaya hidup dan kebiasaan.

3. Bayi 'Tercekik'

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Mengkhawatir hal-hal yang terjadi di sekeliling hanya akan menimbulkan masalah bagi janin. Stres selama kehamilan juga dapat menyebabkan lebih banyak masalah baik bagi ibu dan bayi yang sedang tumbuh di dlam janin.

Para ahli mengatakan bahwa ketika seorang perempuan mengalami stres selama kehamilan, tekanan darahnya akan meningkat, denyut jantung  berdetak lebih cepat, dan bayi cenderung 'tercekik' dalam rahim. Untuk mengontrol stres selama kehamilan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah gaya hidup dan kebiasaan.

4. Anak Mudah Marah dan Depresi

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Sebuah studi baru mengklaim alasan mengapa sejumlah orang lebih rentan menderita stres dan gejala kecemasan dibanding yang lainnya adalah karena mereka berbagi stres yang dirasakan ibunya ketika masih berada dalam kandungan.

Secara normal, plasenta berfungsi melindungi si calon jabang bayi dari hormon-hormon 'jahat' yang menumpuk di dalam darah sang ibu ketika ia mengalami stres. Tapi pada wanita tertentu, fungsi perlindungan ini terlihat lemah atau cacat dan akibatnya janin dengan mudah terpapar hormon stres dari ibunya. Kelak si anak akan lebih rentan terkena depresi atau gejala kecemasan saat beranjak dewasa.

Peneliti menduga penghambat fungsi pelindung plasenta ini bisa jadi kewalahan dengan tingginya kadar stres yang terjadi selama masa kehamilan. Atau jika tidak, wanita-wanita tertentu mungkin tak dapat menghasilkan enzim penghambat yang cukup untuk melakukan fungsi perlindungannya.
Padahal sekali hormon stres menerobos penghambat tersebut, mereka dapat mempengaruhi perkembangan otak sekaligus memicu perubahan otak sehingga membuat si bayi rentan mengalami gejala kecemasan dan masalah perilaku ketika beranjak dewasa.

4. Anak Mudah Marah dan Depresi

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Sebuah studi baru mengklaim alasan mengapa sejumlah orang lebih rentan menderita stres dan gejala kecemasan dibanding yang lainnya adalah karena mereka berbagi stres yang dirasakan ibunya ketika masih berada dalam kandungan.

Secara normal, plasenta berfungsi melindungi si calon jabang bayi dari hormon-hormon 'jahat' yang menumpuk di dalam darah sang ibu ketika ia mengalami stres. Tapi pada wanita tertentu, fungsi perlindungan ini terlihat lemah atau cacat dan akibatnya janin dengan mudah terpapar hormon stres dari ibunya. Kelak si anak akan lebih rentan terkena depresi atau gejala kecemasan saat beranjak dewasa.

Peneliti menduga penghambat fungsi pelindung plasenta ini bisa jadi kewalahan dengan tingginya kadar stres yang terjadi selama masa kehamilan. Atau jika tidak, wanita-wanita tertentu mungkin tak dapat menghasilkan enzim penghambat yang cukup untuk melakukan fungsi perlindungannya.
Padahal sekali hormon stres menerobos penghambat tersebut, mereka dapat mempengaruhi perkembangan otak sekaligus memicu perubahan otak sehingga membuat si bayi rentan mengalami gejala kecemasan dan masalah perilaku ketika beranjak dewasa.

5. Kematian Bayi

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Sebuah studi mengungkapkan bahwa bayi yang terlahir dari ibu yang stres beberapa bulan jelang persalinan berpeluang kecil untuk bertahan hidup hingga melewati tahun pertamanya. Meski risiko kematian pada seluruh bayi yang menjadi partisipan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini tetap rendah, bayi yang ibunya menghadapi stres sebelum melahirkan berpeluang 53 persen lebih besar untuk meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka ketimbang bayi yang ibunya tidak terkena stres sebelum melahirkan.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari Indiana University, AS dan Karolinska Institute, Swedia mengamati rekam medis lebih dari 3 juta kelahiran di Swedia antara tahun 1973-2008. Dari situ peneliti mengidentifikasi adanya 8.398 kasus kematian bayi.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu selama masa pra-persalinan dapat mengubah sistem tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal-sinyal hormon persalinan berikut nutrisi ke janin sehingga mempengaruhi tahapan kehamilan yang paling dini yaitu ketika organ-organ si bayi baru mulai terbentuk.

Stres jelang persalinan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah, dua hal yang diketahui sebagai faktor risiko kematian bayi. Kaitan antara stres jelang persalinan dan kematian bayi juga tetap ada meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi seperti kebiasaan merokok si ibu selama masa mengandung atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah.

Namun demikian tim peneliti mengungkapkan mungkin ada beberapa faktor yang tak diketahui lainnya yang dapat mempengaruhi temuan tersebut.

5. Kematian Bayi

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Sebuah studi mengungkapkan bahwa bayi yang terlahir dari ibu yang stres beberapa bulan jelang persalinan berpeluang kecil untuk bertahan hidup hingga melewati tahun pertamanya. Meski risiko kematian pada seluruh bayi yang menjadi partisipan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini tetap rendah, bayi yang ibunya menghadapi stres sebelum melahirkan berpeluang 53 persen lebih besar untuk meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka ketimbang bayi yang ibunya tidak terkena stres sebelum melahirkan.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari Indiana University, AS dan Karolinska Institute, Swedia mengamati rekam medis lebih dari 3 juta kelahiran di Swedia antara tahun 1973-2008. Dari situ peneliti mengidentifikasi adanya 8.398 kasus kematian bayi.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu selama masa pra-persalinan dapat mengubah sistem tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal-sinyal hormon persalinan berikut nutrisi ke janin sehingga mempengaruhi tahapan kehamilan yang paling dini yaitu ketika organ-organ si bayi baru mulai terbentuk.

Stres jelang persalinan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah, dua hal yang diketahui sebagai faktor risiko kematian bayi. Kaitan antara stres jelang persalinan dan kematian bayi juga tetap ada meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi seperti kebiasaan merokok si ibu selama masa mengandung atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah.

Namun demikian tim peneliti mengungkapkan mungkin ada beberapa faktor yang tak diketahui lainnya yang dapat mempengaruhi temuan tersebut.

6. Bayi Laki-laki Berisiko Kena Gangguan Otak

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Peneliti Dr. Tracy Bale dari School of Veterinary Medicine, University of Pennsylvania, AS, menerangkan stres akan berdampak terhadap protein yang mempengaruhi perkembangan otak si calon bayi. Bahkan protein tersebut dapat mempengaruhi otak bayi perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mempelajari sejumlah tikus betina yang dipapari stres ringan seperti bau rubah atau pemangsa dan suara-suara yang asing di telinganya, terutama di minggu pertama kehamilan.

Dari situ peneliti dapat mengidentifikasi adanya sebuah protein bernama OGT yang kadarnya jauh lebih rendah pada plasenta tikus yang stres daripada tikus yang tidak stres. Padahal dari studi ini juga diketahui penurunan kadar OGT dapat memicu perubahan lebih dari 370 gen di dalam otak si calon anak tikus.

Banyak diantaranya yang berperan krusial untuk perkembangan si calon anak tikus, seperti untuk mengatur penggunaan energi, pengaturan protein hingga menghasilkan koneksi antarsel saraf. Protein ini juga berfungsi melindungi otak janin selama masa kehamilan. Nah, berdasarkan analisis terhadap plasenta manusia terlihat bahwa bayi laki-laki memiliki kadar OGT lebih rendah daripada bayi perempuan. Kondisi ini juga ditemukan pada calon anak tikus karena kadar OGT pada plasenta anak tikus jantan lebih rendah daripada yang ada pada plasenta anak tikus betina.

Rendahnya kadar OGT ini telah dialami si bayi laki-laki sejak dalam kandungan sehingga ketika ibunya stres, otak mereka akan berisiko lebih besar untuk mengalami gangguan. Peneliti percaya temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara stres yang dialami seorang wanita saat mengandung dan gangguan seperti autisme dan schizophrenia karena kedua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, termasuk dengan kondisi yang lebih parah daripada jika bayi perempuan yang memilikinya.

6. Bayi Laki-laki Berisiko Kena Gangguan Otak

Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Peneliti Dr. Tracy Bale dari School of Veterinary Medicine, University of Pennsylvania, AS, menerangkan stres akan berdampak terhadap protein yang mempengaruhi perkembangan otak si calon bayi. Bahkan protein tersebut dapat mempengaruhi otak bayi perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mempelajari sejumlah tikus betina yang dipapari stres ringan seperti bau rubah atau pemangsa dan suara-suara yang asing di telinganya, terutama di minggu pertama kehamilan.

Dari situ peneliti dapat mengidentifikasi adanya sebuah protein bernama OGT yang kadarnya jauh lebih rendah pada plasenta tikus yang stres daripada tikus yang tidak stres. Padahal dari studi ini juga diketahui penurunan kadar OGT dapat memicu perubahan lebih dari 370 gen di dalam otak si calon anak tikus.

Banyak diantaranya yang berperan krusial untuk perkembangan si calon anak tikus, seperti untuk mengatur penggunaan energi, pengaturan protein hingga menghasilkan koneksi antarsel saraf. Protein ini juga berfungsi melindungi otak janin selama masa kehamilan. Nah, berdasarkan analisis terhadap plasenta manusia terlihat bahwa bayi laki-laki memiliki kadar OGT lebih rendah daripada bayi perempuan. Kondisi ini juga ditemukan pada calon anak tikus karena kadar OGT pada plasenta anak tikus jantan lebih rendah daripada yang ada pada plasenta anak tikus betina.

Rendahnya kadar OGT ini telah dialami si bayi laki-laki sejak dalam kandungan sehingga ketika ibunya stres, otak mereka akan berisiko lebih besar untuk mengalami gangguan. Peneliti percaya temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara stres yang dialami seorang wanita saat mengandung dan gangguan seperti autisme dan schizophrenia karena kedua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, termasuk dengan kondisi yang lebih parah daripada jika bayi perempuan yang memilikinya.
Halaman 2 dari 14
Dr Petra Arck dan rekan-rekannya dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, seusai melakukan pengamatan terhadap 1.578 pasang ibu dan anak yang ambil bagian dalam sebuah studi di Australia menyebut  peluang anak mengidap asma atau eksim terlihat lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya mengalami satu atau beberapa kejadian tak mengenakkan di paruh kedua masa kehamilan mereka. Anak-anak ini berpeluang dua kali lipat mengidap asma di usia 14 tahun saat remaja, bukannya di usia 6 tahun.

Meski demikian tidak semua orang sependapat dengan kesimpulan ini. Alet H. Wijga dari National Institute for Public Health and Environment, Bilthoven, Belanda memperingatkan stres bukanlah penyebab utama asma dan eksim pada anak.

"Bisa jadi masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal nomaden (berpindah-pindah) berkaitan dengan perceraian orang tuanya atau salah satu orang tua meninggal memberikan dampak jangka panjang pada posisi sosio-ekonomi si ibu dan anak, sehingga anak ini tumbuh menjadi remaja yang selalu dihadapkan pada masalah atau tumbuh di dalam lingkungan yang tak kondusif," terang Alet.

Dr Petra Arck dan rekan-rekannya dari University Medical Center Hamburg-Eppendorf, Jerman, seusai melakukan pengamatan terhadap 1.578 pasang ibu dan anak yang ambil bagian dalam sebuah studi di Australia menyebut  peluang anak mengidap asma atau eksim terlihat lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya mengalami satu atau beberapa kejadian tak mengenakkan di paruh kedua masa kehamilan mereka. Anak-anak ini berpeluang dua kali lipat mengidap asma di usia 14 tahun saat remaja, bukannya di usia 6 tahun.

Meski demikian tidak semua orang sependapat dengan kesimpulan ini. Alet H. Wijga dari National Institute for Public Health and Environment, Bilthoven, Belanda memperingatkan stres bukanlah penyebab utama asma dan eksim pada anak.

"Bisa jadi masalah keuangan, kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal nomaden (berpindah-pindah) berkaitan dengan perceraian orang tuanya atau salah satu orang tua meninggal memberikan dampak jangka panjang pada posisi sosio-ekonomi si ibu dan anak, sehingga anak ini tumbuh menjadi remaja yang selalu dihadapkan pada masalah atau tumbuh di dalam lingkungan yang tak kondusif," terang Alet.

Stres yang dialami bersamaan dengan berat badan rendah pada saat sedang mengandung dan defisiensi gizi tidak boleh diremehkan.  akan memberikan dampak buruk jangka pendek pada janin dan anak di bawah usia 2 tahun. Dampaknya adalah perkembangan janin yang terhambat, di mana kondisi itu akan mempengaruhi ukuran dan komposisi tubuh atau organ, termasuk otak dan organ internal.

Anak yang tidak memiliki asupan cukup mudah mengalami obesitas, stamina tubuh yang rendah, sehingga mudah terkena infeksi. Sementara itu dampak jangka panjangnya, di masa depan mereka akan menderita hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan bayi dapat berkembang dengan baik, seorang ibu harus mengontrol berat badannya selama dalam masa kehamilan, makan makanan yang cukup dan seimbang, mendapat asupan suplemen yang mengandung asam folat, zat besi, kalsium, yodium dan vitamin D, olahraga yang cukup, menghindari rokok, alkohol dan kafein, serta yang paling penting ibu yang hamil harus tetap gembira.

Stres yang dialami bersamaan dengan berat badan rendah pada saat sedang mengandung dan defisiensi gizi tidak boleh diremehkan.  akan memberikan dampak buruk jangka pendek pada janin dan anak di bawah usia 2 tahun. Dampaknya adalah perkembangan janin yang terhambat, di mana kondisi itu akan mempengaruhi ukuran dan komposisi tubuh atau organ, termasuk otak dan organ internal.

Anak yang tidak memiliki asupan cukup mudah mengalami obesitas, stamina tubuh yang rendah, sehingga mudah terkena infeksi. Sementara itu dampak jangka panjangnya, di masa depan mereka akan menderita hipertensi, diabetes, dan obesitas.

Adapun upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan bayi dapat berkembang dengan baik, seorang ibu harus mengontrol berat badannya selama dalam masa kehamilan, makan makanan yang cukup dan seimbang, mendapat asupan suplemen yang mengandung asam folat, zat besi, kalsium, yodium dan vitamin D, olahraga yang cukup, menghindari rokok, alkohol dan kafein, serta yang paling penting ibu yang hamil harus tetap gembira.

Mengkhawatir hal-hal yang terjadi di sekeliling hanya akan menimbulkan masalah bagi janin. Stres selama kehamilan juga dapat menyebabkan lebih banyak masalah baik bagi ibu dan bayi yang sedang tumbuh di dlam janin.

Para ahli mengatakan bahwa ketika seorang perempuan mengalami stres selama kehamilan, tekanan darahnya akan meningkat, denyut jantung  berdetak lebih cepat, dan bayi cenderung 'tercekik' dalam rahim. Untuk mengontrol stres selama kehamilan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah gaya hidup dan kebiasaan.

Mengkhawatir hal-hal yang terjadi di sekeliling hanya akan menimbulkan masalah bagi janin. Stres selama kehamilan juga dapat menyebabkan lebih banyak masalah baik bagi ibu dan bayi yang sedang tumbuh di dlam janin.

Para ahli mengatakan bahwa ketika seorang perempuan mengalami stres selama kehamilan, tekanan darahnya akan meningkat, denyut jantung  berdetak lebih cepat, dan bayi cenderung 'tercekik' dalam rahim. Untuk mengontrol stres selama kehamilan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah gaya hidup dan kebiasaan.

Sebuah studi baru mengklaim alasan mengapa sejumlah orang lebih rentan menderita stres dan gejala kecemasan dibanding yang lainnya adalah karena mereka berbagi stres yang dirasakan ibunya ketika masih berada dalam kandungan.

Secara normal, plasenta berfungsi melindungi si calon jabang bayi dari hormon-hormon 'jahat' yang menumpuk di dalam darah sang ibu ketika ia mengalami stres. Tapi pada wanita tertentu, fungsi perlindungan ini terlihat lemah atau cacat dan akibatnya janin dengan mudah terpapar hormon stres dari ibunya. Kelak si anak akan lebih rentan terkena depresi atau gejala kecemasan saat beranjak dewasa.

Peneliti menduga penghambat fungsi pelindung plasenta ini bisa jadi kewalahan dengan tingginya kadar stres yang terjadi selama masa kehamilan. Atau jika tidak, wanita-wanita tertentu mungkin tak dapat menghasilkan enzim penghambat yang cukup untuk melakukan fungsi perlindungannya.
Padahal sekali hormon stres menerobos penghambat tersebut, mereka dapat mempengaruhi perkembangan otak sekaligus memicu perubahan otak sehingga membuat si bayi rentan mengalami gejala kecemasan dan masalah perilaku ketika beranjak dewasa.

Sebuah studi baru mengklaim alasan mengapa sejumlah orang lebih rentan menderita stres dan gejala kecemasan dibanding yang lainnya adalah karena mereka berbagi stres yang dirasakan ibunya ketika masih berada dalam kandungan.

Secara normal, plasenta berfungsi melindungi si calon jabang bayi dari hormon-hormon 'jahat' yang menumpuk di dalam darah sang ibu ketika ia mengalami stres. Tapi pada wanita tertentu, fungsi perlindungan ini terlihat lemah atau cacat dan akibatnya janin dengan mudah terpapar hormon stres dari ibunya. Kelak si anak akan lebih rentan terkena depresi atau gejala kecemasan saat beranjak dewasa.

Peneliti menduga penghambat fungsi pelindung plasenta ini bisa jadi kewalahan dengan tingginya kadar stres yang terjadi selama masa kehamilan. Atau jika tidak, wanita-wanita tertentu mungkin tak dapat menghasilkan enzim penghambat yang cukup untuk melakukan fungsi perlindungannya.
Padahal sekali hormon stres menerobos penghambat tersebut, mereka dapat mempengaruhi perkembangan otak sekaligus memicu perubahan otak sehingga membuat si bayi rentan mengalami gejala kecemasan dan masalah perilaku ketika beranjak dewasa.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa bayi yang terlahir dari ibu yang stres beberapa bulan jelang persalinan berpeluang kecil untuk bertahan hidup hingga melewati tahun pertamanya. Meski risiko kematian pada seluruh bayi yang menjadi partisipan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini tetap rendah, bayi yang ibunya menghadapi stres sebelum melahirkan berpeluang 53 persen lebih besar untuk meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka ketimbang bayi yang ibunya tidak terkena stres sebelum melahirkan.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari Indiana University, AS dan Karolinska Institute, Swedia mengamati rekam medis lebih dari 3 juta kelahiran di Swedia antara tahun 1973-2008. Dari situ peneliti mengidentifikasi adanya 8.398 kasus kematian bayi.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu selama masa pra-persalinan dapat mengubah sistem tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal-sinyal hormon persalinan berikut nutrisi ke janin sehingga mempengaruhi tahapan kehamilan yang paling dini yaitu ketika organ-organ si bayi baru mulai terbentuk.

Stres jelang persalinan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah, dua hal yang diketahui sebagai faktor risiko kematian bayi. Kaitan antara stres jelang persalinan dan kematian bayi juga tetap ada meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi seperti kebiasaan merokok si ibu selama masa mengandung atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah.

Namun demikian tim peneliti mengungkapkan mungkin ada beberapa faktor yang tak diketahui lainnya yang dapat mempengaruhi temuan tersebut.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa bayi yang terlahir dari ibu yang stres beberapa bulan jelang persalinan berpeluang kecil untuk bertahan hidup hingga melewati tahun pertamanya. Meski risiko kematian pada seluruh bayi yang menjadi partisipan dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini tetap rendah, bayi yang ibunya menghadapi stres sebelum melahirkan berpeluang 53 persen lebih besar untuk meninggal sebelum ulang tahun pertama mereka ketimbang bayi yang ibunya tidak terkena stres sebelum melahirkan.

Kesimpulan ini diperoleh setelah tim peneliti dari Indiana University, AS dan Karolinska Institute, Swedia mengamati rekam medis lebih dari 3 juta kelahiran di Swedia antara tahun 1973-2008. Dari situ peneliti mengidentifikasi adanya 8.398 kasus kematian bayi.

Sejumlah studi mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu selama masa pra-persalinan dapat mengubah sistem tubuh yang bertanggung jawab mengirimkan sinyal-sinyal hormon persalinan berikut nutrisi ke janin sehingga mempengaruhi tahapan kehamilan yang paling dini yaitu ketika organ-organ si bayi baru mulai terbentuk.

Stres jelang persalinan juga sering dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat lahir bayi yang rendah, dua hal yang diketahui sebagai faktor risiko kematian bayi. Kaitan antara stres jelang persalinan dan kematian bayi juga tetap ada meski peneliti telah mempertimbangkan faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kematian bayi seperti kebiasaan merokok si ibu selama masa mengandung atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat lahir yang rendah.

Namun demikian tim peneliti mengungkapkan mungkin ada beberapa faktor yang tak diketahui lainnya yang dapat mempengaruhi temuan tersebut.

Peneliti Dr. Tracy Bale dari School of Veterinary Medicine, University of Pennsylvania, AS, menerangkan stres akan berdampak terhadap protein yang mempengaruhi perkembangan otak si calon bayi. Bahkan protein tersebut dapat mempengaruhi otak bayi perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mempelajari sejumlah tikus betina yang dipapari stres ringan seperti bau rubah atau pemangsa dan suara-suara yang asing di telinganya, terutama di minggu pertama kehamilan.

Dari situ peneliti dapat mengidentifikasi adanya sebuah protein bernama OGT yang kadarnya jauh lebih rendah pada plasenta tikus yang stres daripada tikus yang tidak stres. Padahal dari studi ini juga diketahui penurunan kadar OGT dapat memicu perubahan lebih dari 370 gen di dalam otak si calon anak tikus.

Banyak diantaranya yang berperan krusial untuk perkembangan si calon anak tikus, seperti untuk mengatur penggunaan energi, pengaturan protein hingga menghasilkan koneksi antarsel saraf. Protein ini juga berfungsi melindungi otak janin selama masa kehamilan. Nah, berdasarkan analisis terhadap plasenta manusia terlihat bahwa bayi laki-laki memiliki kadar OGT lebih rendah daripada bayi perempuan. Kondisi ini juga ditemukan pada calon anak tikus karena kadar OGT pada plasenta anak tikus jantan lebih rendah daripada yang ada pada plasenta anak tikus betina.

Rendahnya kadar OGT ini telah dialami si bayi laki-laki sejak dalam kandungan sehingga ketika ibunya stres, otak mereka akan berisiko lebih besar untuk mengalami gangguan. Peneliti percaya temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara stres yang dialami seorang wanita saat mengandung dan gangguan seperti autisme dan schizophrenia karena kedua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, termasuk dengan kondisi yang lebih parah daripada jika bayi perempuan yang memilikinya.

Peneliti Dr. Tracy Bale dari School of Veterinary Medicine, University of Pennsylvania, AS, menerangkan stres akan berdampak terhadap protein yang mempengaruhi perkembangan otak si calon bayi. Bahkan protein tersebut dapat mempengaruhi otak bayi perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mempelajari sejumlah tikus betina yang dipapari stres ringan seperti bau rubah atau pemangsa dan suara-suara yang asing di telinganya, terutama di minggu pertama kehamilan.

Dari situ peneliti dapat mengidentifikasi adanya sebuah protein bernama OGT yang kadarnya jauh lebih rendah pada plasenta tikus yang stres daripada tikus yang tidak stres. Padahal dari studi ini juga diketahui penurunan kadar OGT dapat memicu perubahan lebih dari 370 gen di dalam otak si calon anak tikus.

Banyak diantaranya yang berperan krusial untuk perkembangan si calon anak tikus, seperti untuk mengatur penggunaan energi, pengaturan protein hingga menghasilkan koneksi antarsel saraf. Protein ini juga berfungsi melindungi otak janin selama masa kehamilan. Nah, berdasarkan analisis terhadap plasenta manusia terlihat bahwa bayi laki-laki memiliki kadar OGT lebih rendah daripada bayi perempuan. Kondisi ini juga ditemukan pada calon anak tikus karena kadar OGT pada plasenta anak tikus jantan lebih rendah daripada yang ada pada plasenta anak tikus betina.

Rendahnya kadar OGT ini telah dialami si bayi laki-laki sejak dalam kandungan sehingga ketika ibunya stres, otak mereka akan berisiko lebih besar untuk mengalami gangguan. Peneliti percaya temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara stres yang dialami seorang wanita saat mengandung dan gangguan seperti autisme dan schizophrenia karena kedua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, termasuk dengan kondisi yang lebih parah daripada jika bayi perempuan yang memilikinya.

(vit/up)

Berita Terkait