Tak Cuma Tanah dan Emas, Kehamilan Juga Investasi

Tak Cuma Tanah dan Emas, Kehamilan Juga Investasi

- detikHealth
Senin, 28 Apr 2014 12:17 WIB
Tak Cuma Tanah dan Emas, Kehamilan Juga Investasi
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Selama ini apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata investasi? Properti, tanah, emas, atau saham? Ya, itu memang sederet investasi yang banyak dimiliki orang. Tapi jangan salah ya, kehamilan juga merupakan investasi, karena itu perlu dijaga sebaik-baiknya.

"Hamil adalah investasi. Dengan melahirkan bisa dihasilkan SDM berkualitas dan berdaya saing tinggi sebagai bentuk investasi. Maka kita perlu menginvestasikan tenaga, uang, gizi, perhatian, supaya anak yang lahir nanti benar-benar berkualitas dari sisi fisik dan mentalnya," terang Wakil Menteri Kesehatan Prof Dr Ali Ghufron Mukt dalam sambutannya dalam Pencanangan Kampanye Peduli Kesehatan Ibu di kantor Kemenkes, Jl.HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (28/4/2014).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah ibu meninggal sebanyak 5.019 orang di tahun 2013. Sebanyak 31 persen kematian disebabkan komplikasi dan 20,3 persen akibat perdarahan post partum. Prof Ghufron menambahkan, kasus kematian terbanyak terjadi pada wanita hamil yang terlalu muda, terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat atau kehamilan yang terlalu sering.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Oleh karena itu, melalui kampanye peduli kesehatan ibu #SayangIbu yang digelar sejak 21 April-22 Desember 2014, harus ada pendekatan continuum of care yang perlu dibantu seluruh lapisan masyarakat sehingga seluruh pihak lebih peduli kesehatan ibu.

Pendekatan sasaran pun tidak hanya terfokus pada ibu hamil saja tapi juga pada remaja, calon ibu, dan siswa siswi melalui kegiatan UKS di sekolah. Upaya ini pun dilakukan di sektor hulu melalui peningkatan status gizi perempuan dan remaja, peningkatan pendidikan kesehatan reproduksi dari lingkup keluarga, dan konseling pernikahan untuk calon pengantin.

Selain itu, harus ada peningkatan peran aktif suami, anggota keluarga, dan masyarakat agar lebih peduli pada kesehatan ibu selama hamil, pasca bersalin, dan nifas, serta penyediaan layanan keluarga berencana. Meskipun, diakui Prof Ghufron faktor medis dan non medis masih menjadi penyebab tingginya angka kematian ibu.

"Faktor non medis di antaranya pendidikan, kesehatan ibu sejak dulu antara lain menikah dan hamil masih sangat muda sehingga gizinya tidak terlalu baik dan pengetahuan keluarga yang bisa saja kurang tanggap terhadap bahaya kehamilan," imbuh Prof Ghufron.

Dari sisi medis, dikatakan Prof Ghufron banyak ibu yang mengalami hipertensi dan penyakit kehamilan terkait seperti eklampsia dan preeklampsia, serta perdarahan pasca persalinan. Ia menambahkan, perlu pula pemahaman anggota keluarga termasuk suami, keluarga, dan mertua supaya jangan sampai ada three delayed yang bisa mengancam keselamatan ibu hamil.

Three delayed tersebut yaitu terlambatnya pengambilan keputusan kemana harus bersalin, terlambatnya transportasi, dan terlambatnya penanganan ibu hamil di layanan kesehatan.

"Jadilah Kartini Indonesia yang tidak meninggal di usia muda tapi Kartini Indonesia yang membuat Indonesia makin jaya," ucap Prof Ghufron.

(rdn/vit)

Berita Terkait