"Kalau pernah usus buntu dan pernah pecah, serta tidak ditangani dengan baik, maka bisa rusak saluran telur sisi kanannya," ujar dr Andrie Ronggani, SpOG dari Klinik Fertilitas Teratai RS Gading Pluit, Jakarta, dalam seminar awam kehamilan dan bayi tabung di The Bridge Function Hall, Aston Rasuna, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Selasa (29/4/2014).
Rekan dr Andrie, dr Indra NC Anwar, MC, SpOG, kepada detikHealth menjelaskan pada pasien usus buntu yang tidak mendapat penanganan dengan baik, infeksi bisa menyebar. Pada saat dilakukan operasi terbuka, dokter memang harus ekstra hati-hati lantaran usus sangat dekat dengan tuba fallopi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika ada masalah dengan tuba fallopi yang menyebabkan sulitnya pembuahan secara alami, maka prosedur bayi tabung bisa dilakukan. Menurut dr Indra, mekanisme bayi tabung bisa jadi opsi pertama sekaligus opsi terakhir. Untuk itu, indikasi masalah tidak bisa hamil normal haruslah jelas.
"Kalau masih bisa memungkinkan cara lain, selain bayi tabung, maka akan diupayakan cara lain," ucap pria berkacamata ini.
dr Indra menjelaskan mekanisme inseminasi untuk mendapatkan calon momongan peluangnya 10-20 persen. Sedangkan mekanisme bayi tabung, peluang kehamilan adalah 37 persen. Akan tetapi hal ini juga dipengaruhi usia pasangan suami istri yang akan menjalani prosedur tersebut. Semakin tua usia, maka akan semakin kecil peluang untuk mendapatkan kehamilan.
(vit/up)











































