Untuk menjawab pertanyaan inilah, dr Brendan Carvalho dari Stanford University School of Medicine, California melakukan studi yang melibatkan 40 wanita hamil. Dikatakan Carvalho, penggunaan anestesi epidural bisa saja memperlama waktu bersalin tetapi dengan intensitas nyeri yang berkurang.
Dalam studinya, Carvalho dan koleganya membagikan kuisioner kepada ibu hamil yang sudah melakukan induksi tetapi belum merasakan kontraksi yang menyakitkan. Kemudian, wanita ini disurvei untuk yang kedua kali 24 jam setelah melahirkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hasil studi ini, dr Ruth Landau, direktur Obstetric Anesthesiology and Clinical Genetics Research di University of Washington Medical Center mengatakan akan lebih menarik jika studi ini mengkaji wanita yang belum diinduksi atau tidak berencana menggunakan anestesi epidural.
"Setidaknya hal ini bisa meyakinkan para wanita bahwa menggunakan anestesi epidural menjadi pilihan yang tepat. Meskipun kembali lagi pada keinginan masing-masing pasien. Sebagai dokter sudah sepatutnya kami memberi informasi lengkap pada pasien," tutur Landau.
Memang diakui Landau biasanya para ibu lebih memilih intensitas nyeri yang rendah meskipun waktu bersalin lebih lama, terutama untuk yang baru pertama kali melahirkan. Carvalho pun menuturkan pada dasarnya banyak faktor yang memengaruhi proses persalinan, tak hanya rasa nyeri yang dirasakan pasien.
"Sejatinya pasien bisa mengontrol berapa banyak obat yang mereka dapatkan pastinya dengan berkonsultasi dengan dokter. Sebab, ada beberapa obat yang justru memperparah bengkak pada kaki ibu hamil dan mungkin membuat bayi harus divakum," tutur Carvalho.











































