Pernah Caesar Tak Bisa Melahirkan Normal? Cek Mitos dan Fakta Lain di Sini

Pernah Caesar Tak Bisa Melahirkan Normal? Cek Mitos dan Fakta Lain di Sini

- detikHealth
Senin, 06 Okt 2014 15:01 WIB
Pernah Caesar Tak Bisa Melahirkan Normal? Cek Mitos dan Fakta Lain di Sini
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat tengah berbadan dua, para wanita pasti mencari informasi seputar kehamilannya, baik lewat tenaga medis atau orang terdekat. Hingga tak jarang, nasihat atau informasi yang didapat pun membuat si ibu bingung, apakah ini mitos belaka atau memang fakta yang terbukti secara ilmiah.

Misalnya saja jahe dan akupunktur yang disebut-sebut bisa membantu mengatasi morning sickness. Benarkah itu? lalu bagaimana dengan info lain bahwa ibu yang suka makan sayur dan buah saat hamil kelak anaknya juga hobi makan sayur dan buah?

Nah, simak pemaparannya seperti dirangkum detikHealth, Senin (6/10/2014) berikut ini:

1. Perut sering mulas saat hamil, rambut bayi nantinya lebat

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Benar. Meski terdengar seperti mitos, peneliti dari Researchers at Johns Hopkins Hospital, Baltimore menemukan bahwa wanita yang melaporkan sering mulas saat hamil, 82 persen memiliki bayi dengan rambut lebat. Sedangkan, wanita yang melaporkan dirinya jarang merasa mulas, saat lahir si bayi cenderung memiliki rambut lebih tipis.

Dikatakan pemimpin studi Kathleen Costigan RN, MPH, tingginya kadar estrogen dan progesteron (hormon kehamilan yang bisa menstimulasi pertumbuhan rambut), bisa mengendurkan katup esofagus. Akibatnya, asam lambung pun naik ke kerongkongan dan bisa menimbulkan efek mulas di perut.

2. Jahe dan akupunktur bisa meringankan morning sickness

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Mitos. Sebab, tim penulis Cochrane Systematic Review menganalisa data dari 27 studi yang melibatkan lebih dari 4.000 wanita hamil dan menemukan tidak ada cara pasti untuk mengatasi morning sickness, termasuk jahe, akupunktur, akupresur, vitamin b6, bahkan obat anti mual.


"Dalam analisis ini, kami hanya menemukan sedikit bukti untuk mendukung hal tersebut. Namun, jika Anda ingin mencobanya silakan saja karena pada beberapa wanita hamil, cara ini bisa mengatasi morning sickness yang mereka alami, asal berkonsultasilah dengan dokter sebelum mencobanya,' terang Donal O Mathuna, PhD, dosen senior di Dublin City University school of Nursing, Irlandia.

3. Ingin bersalin normal dan sebelumnya pernah caesar akan berisiko untuk ibu dan anak

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Mitos. Tahun 2012, American College of Obstetricians and Gynecologists merevisi panduan vaginal birth after Cesarean (VBAC). Pada dasarnya bersalin normal bisa dilakukan semua wanita. Hanya saja, dulunya dikhawatirkan operasi caesar yang pernah dilakukan akan meningkatkan risiko ruptur uterine yang berbahaya bagi ibu dan bayi ketika ibu bersalin normal.

Menurut dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, pada prinsipnya syarat untuk dilakukan VBAC atau TOLAC (Trial of Labor After C-Section) adalah bekas operasi tidak lebih dari 1 kali dengan irisan operasi caesar sebelumnya di segmen bawah rahim. Kemudian, persalinan dilakukan di RS dengan kecepatan dilakukan operasi jika terjadi kegawatan karena kemungkinan terjadinya rahim robek pada bekas operasi caesar lebih tinggi dibandingkan belum pernah caesar, tidak lebih dari 30 menit.

Persalinan juga dilakukan di RS dengan fasilitas alat monitor jantung bayi terus-menerus. Taksiran berat janin tidak lebih dari 4 kg, tidak ada kelainan letak janin, ukuran bayi dan panggul pun disimpulkan bisa lahir normal, serta ibu tidak kegemukan.

"Persalinan paling aman dilakukan dengan jarak operasi sebelumnya sekitar 18-24 bulan, kurang dari 18 bulan risiko robekan rahim spontan meningkat, tetapi bukan berarti tidak boleh," kata dr Hari.

4. Epidural bisa meningkatkan peluang ibu untuk menyusui

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Mitos. Dulu memang kerap dipercaya bahwa penggunaan epidural ketika ibu bersalin membuat bayi baru lahri lebih lesu sehingga mereka akan sulit disusui. Namun, studi di Inggris pada tahun 2010 menampik hal ini.

Mereka menemukan dari 1.054 wanita bersalin, di mana 351 orang bersalin tanpa epidural, mereka tetap sukses menyusui bayinya. Menurut ketua studi, Andrew Shennan MD, profesor kebidandan di King's College London, tidak terdapat perbedaan signifikan keberhasilan antara ibu menyusui yang bersalin menggunakan epidural atau tidak.

"Epidural sangat amat dan bisa mempermudah persalinan. Otomatis, kondisi ibu dan bayi bisa lebih optimal, termasuk inisiasi menyusu dini akan lebih mudah dilakukan," kata Shennan.

5. Ibu hamil suka makan sayur, anaknya pun akan hobi makan sayur

Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Benar. Makanan dan minuman yang dikonsumsi selama hamil akan dialirkan pula ke janin melalui cairan ketuban. Beberapa penelitian menunjukkan bayi yang 'terpapar' sayuran saat di rahim akan lebih siap atau mudah makan sayur ketika mereka sudah mulai bisa mengonsumsi makanan padat.

Studi di journal Pediatric juga menunjukkan rasa aneka makanan pun dirasakan bayi lewat ASI. Dalam studi tersebut, bayi 4-8 bulan yang ibunya sering mengonsumsi sayuran hijau, bisa makan sayur lebih cepat dan tiga kali lebih sering makan sayur dibandingkan dengan bayi yang saat menyusu ASI, si ibu jarang makan sayur hijau.

Sama halnya jika ibu kerap mengasup makanan asin, gurih, dan manis saat mengandung, si anak nantinya akan lebih tertarik dengan junk foood, demikian dikatakan sebuah studi terbaru.
Halaman 2 dari 6
Benar. Meski terdengar seperti mitos, peneliti dari Researchers at Johns Hopkins Hospital, Baltimore menemukan bahwa wanita yang melaporkan sering mulas saat hamil, 82 persen memiliki bayi dengan rambut lebat. Sedangkan, wanita yang melaporkan dirinya jarang merasa mulas, saat lahir si bayi cenderung memiliki rambut lebih tipis.

Dikatakan pemimpin studi Kathleen Costigan RN, MPH, tingginya kadar estrogen dan progesteron (hormon kehamilan yang bisa menstimulasi pertumbuhan rambut), bisa mengendurkan katup esofagus. Akibatnya, asam lambung pun naik ke kerongkongan dan bisa menimbulkan efek mulas di perut.

Mitos. Sebab, tim penulis Cochrane Systematic Review menganalisa data dari 27 studi yang melibatkan lebih dari 4.000 wanita hamil dan menemukan tidak ada cara pasti untuk mengatasi morning sickness, termasuk jahe, akupunktur, akupresur, vitamin b6, bahkan obat anti mual.


"Dalam analisis ini, kami hanya menemukan sedikit bukti untuk mendukung hal tersebut. Namun, jika Anda ingin mencobanya silakan saja karena pada beberapa wanita hamil, cara ini bisa mengatasi morning sickness yang mereka alami, asal berkonsultasilah dengan dokter sebelum mencobanya,' terang Donal O Mathuna, PhD, dosen senior di Dublin City University school of Nursing, Irlandia.

Mitos. Tahun 2012, American College of Obstetricians and Gynecologists merevisi panduan vaginal birth after Cesarean (VBAC). Pada dasarnya bersalin normal bisa dilakukan semua wanita. Hanya saja, dulunya dikhawatirkan operasi caesar yang pernah dilakukan akan meningkatkan risiko ruptur uterine yang berbahaya bagi ibu dan bayi ketika ibu bersalin normal.

Menurut dr Hari Nugroho SpOG dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, pada prinsipnya syarat untuk dilakukan VBAC atau TOLAC (Trial of Labor After C-Section) adalah bekas operasi tidak lebih dari 1 kali dengan irisan operasi caesar sebelumnya di segmen bawah rahim. Kemudian, persalinan dilakukan di RS dengan kecepatan dilakukan operasi jika terjadi kegawatan karena kemungkinan terjadinya rahim robek pada bekas operasi caesar lebih tinggi dibandingkan belum pernah caesar, tidak lebih dari 30 menit.

Persalinan juga dilakukan di RS dengan fasilitas alat monitor jantung bayi terus-menerus. Taksiran berat janin tidak lebih dari 4 kg, tidak ada kelainan letak janin, ukuran bayi dan panggul pun disimpulkan bisa lahir normal, serta ibu tidak kegemukan.

"Persalinan paling aman dilakukan dengan jarak operasi sebelumnya sekitar 18-24 bulan, kurang dari 18 bulan risiko robekan rahim spontan meningkat, tetapi bukan berarti tidak boleh," kata dr Hari.

Mitos. Dulu memang kerap dipercaya bahwa penggunaan epidural ketika ibu bersalin membuat bayi baru lahri lebih lesu sehingga mereka akan sulit disusui. Namun, studi di Inggris pada tahun 2010 menampik hal ini.

Mereka menemukan dari 1.054 wanita bersalin, di mana 351 orang bersalin tanpa epidural, mereka tetap sukses menyusui bayinya. Menurut ketua studi, Andrew Shennan MD, profesor kebidandan di King's College London, tidak terdapat perbedaan signifikan keberhasilan antara ibu menyusui yang bersalin menggunakan epidural atau tidak.

"Epidural sangat amat dan bisa mempermudah persalinan. Otomatis, kondisi ibu dan bayi bisa lebih optimal, termasuk inisiasi menyusu dini akan lebih mudah dilakukan," kata Shennan.

Benar. Makanan dan minuman yang dikonsumsi selama hamil akan dialirkan pula ke janin melalui cairan ketuban. Beberapa penelitian menunjukkan bayi yang 'terpapar' sayuran saat di rahim akan lebih siap atau mudah makan sayur ketika mereka sudah mulai bisa mengonsumsi makanan padat.

Studi di journal Pediatric juga menunjukkan rasa aneka makanan pun dirasakan bayi lewat ASI. Dalam studi tersebut, bayi 4-8 bulan yang ibunya sering mengonsumsi sayuran hijau, bisa makan sayur lebih cepat dan tiga kali lebih sering makan sayur dibandingkan dengan bayi yang saat menyusu ASI, si ibu jarang makan sayur hijau.

Sama halnya jika ibu kerap mengasup makanan asin, gurih, dan manis saat mengandung, si anak nantinya akan lebih tertarik dengan junk foood, demikian dikatakan sebuah studi terbaru.

(rdn/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads