"Peranakan kering itu dari yang saya dengar karena memang nggak ada juga kriteria diagnosa peranakan kering di dunia kedokteran, adalah mitos mengenai kondisi rahim pasca pemakaian pil kb," kata dr Hari Nugroho SpOG dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Kamis (6/11/2014).
dr Hari menjelaskan, dalam kehidupan masyarakat kondisi itulah yang kerap dianalogikan dengan mitos sebagai rahim yang kering hingga menyebabkan wanita susah mempunyai anak. Padahal, menurut dokter yang praktik di RSUD Dr Soetomo Surabaya ini keadaan tersebut tidaklah benar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diutarakan dr Hari, pada prinsipnya masalah sulit memiliki anak disebabkan sekitar 30% dari faktor si pria, 30% dari saluran indung telur dan rahim wanita, kemudian 30% dari kualitas indung telur, lalu 10%-nya tidak diketahui.
Senada dengan dr Hari, dr Frizar Irmansyah, SpOG dari RS Pusat Pertamina mengatakan karena tidak dikenal di dunia kedokteran, penafsiran atas apa yang dimaksud dengan peranakan kering juga berbeda-beda sehingga sulit dipastikan apa maksudnya. Sebab, beberapa orang memakai istilah peranakan kering untuk kondisi setelah menopause, ketika organ reproduksi perempuan menjadi lebih kering.
Produksi lendir menjadi lebih sedikit, darah haid tidak keluar lagi dan sudah tidak bisa dibuahi. Kondisi ini diibaratkan tanah kering yang tidak subur lagi. Namun ada pula yang menyebut peranakan kering untuk kondisi lain, seperti efek samping kontrasepsi hormonal sepertipPil KB.
"Pada perempuan yang mengonsumsi pil KB, darah haid yang keluar terkadang memang lebih sedikit sehingga dianggap lebih kering. Padahal itu kan malah bagus, tidak banyak darah yang terbuang. Rahimnya sendiri tidak ada masalah meski dikatakan kering," tutur dr Frizar.
(rdn/up)











































