Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM(K) pun menyadari hal tersebut. Karena itulah, ia mewanti-wanti ibu hamil agar mencukupi kebutuhan nutrisi agar kelak anak yang lahir tidak mengalami gangguan tumbuh kembang terutama dari segi kognitif.
"Memang antara pendidikan dan kesehatan itu seperti telur dan ayam ya. Mana yang lebih dulu? Tapi saya pengang kesehatan dulu," tutur Menkes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menkes juga mengibaratkan otak seperti komputer. Jika kebutuhan nutrisi tidak dipenuhi, maka otak tidak akan mampu menerima asupan atau ilmu baru yang masuk. Sama seperti komputer yang jika kurang bagus isinya, komputer tersebut akan 'hang' ketika diisi oleh program baru.
Jika 80 persen pembentukan otak anak dimulai dari kandungan, maka sisa 20 persennya lagi dibentuk oleh lingkungan hingga anak berusia 2 tahun. Karena pemberian ASI eksklusif harus dilakukan selama 6 bulan pertama dan dilanjutkan dengan makanan pendukung ASI ketika anak sudah lewat 1 tahun.
Bukan hanya soal otak dan kemampuan kognitif, peran nutrisi bagi ibu hamil juga dapat mencegah anak lahir stunting atau kuntet. Menkes Nila mengatakan bahwa persentase anak stunting di Indonesia masih tinggi, mencapai 37 persen.
"Di kita bayi lahir stunting masih 37 persen. Artinya, dari 5 anak yang lahir, 2 di antaranya stunting. Ini juga pengaruh kurangnya nutrisi yang dialami oleh para ibu hamil," tandasnya lagi.
(mrs/vit)











































