Senin, 08 Des 2014 18:35 WIB

Kontraksi Palsu dan Sungguhan, Begini Lho Cara Membedakannya

- detikHealth
Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Dalam kondisi hamil, ibu bisa saja merasakan kontraksi karena pada dasarnya kontraksi pada ibu hamil dibagi menjadi dua macam yakni kontraksi persalinan palsu dan kontraksi asli untuk persalinan. Lantas, bagaimana membedakan bahwa kontraksi yang dialami si ibu hanyalah kontraksi palsu atau justru kontraksi tanda ibu akan segera melahirkan?

Menurut dr Gde Suardana, SpOG, kontraksi palsu ialah kontraksi yang datang lebih awal tetapi belum mampu membuat ibu mengalami perasalinan. Ciri-ciri kontraksi palsu biasanya intensitasnya lemah, muncul tidak teratur, dan durasinya hanya sebentar. Kondisi ini berbeda dengan kontraksi sungguhan di mana dalam 10 menit dapat terjadi 3 kali kontraksi dan masing-masing kontraksi dapat berdurasi 30-60 detik.

"Bisa sampai 1 menit sakitnya, kemudian hilang. Lalu 3 menit kemudian terjadi kontraksi lagi dan hilang kembali selama 1 menit atau 2 menit. Jadi, dari durasinya, intensitasnya, dan frekuensinya teratur kalau yang mengalami kontraksi sungguhan, kalau yang di luar itu berarti kontraksi palsu," papar dr Gde kepada detikHealth, ditemui di RSAB Harapan Kita dan ditulis pada Senin (8/12/2014).

Lebih lanjut, dr Gde menyarankan ibu hamil yang mengalami kontraksi agar beristirahat, misalnya duduk atau berbaring. Saat berbaring, dianjurkan dengan posisi miring ke kiri agar aliran darah di pembuluh vena lancar. Sambil berbaring, ibu juga perlu melakukan tarik nafas dan minum. Sebab, jika yang dialami adalah kontraksi palsu maka Ibu tak perlu khawatir karena hanya akan berlangsung sebentar.

"Jika kontraksi tersebut berlangsung dan berkelanjutan berarti merupakan his (kontraksi) sungguhan. His sungguhan bisa terjadi pada usia kandungan hamil tua maupun hamil muda yang berarti ancaman. Jika kontraksi tersebut tidak dicegah, risikonya dapat mengalami persalinan prematur," imbuh dr Gde.

Ia menerangkan, kontraksi palsu dapat terjadi pada saat usia kandungan mencapai 28 minggu. Jika pada saat itu terjadi kontraksi palsu, ibu disarankan untuk beristirahat. Jika tidak berhasil, ibu harus datang ke Unit Gawat Darurat untuk mencari tahu apakah yang dialami kontraksi palsu atau kontraksi sebenarnya.

"His sungguhan dapat menyebabkan kelahiran prematur, misalnya terjadi kontraksi palsunya di usia kandungan 30 minggu dan hanya dibiarkan saja tetapi tiba-tiba bayinya lahir hanya dengan berat 1,5 kg. Jadi, kelahirannya terpaksa prematur. Padahal, jika ibu curiga pada kontraksi palsu yang datang di usia kehamilan 7 atau 8 bulan, ia bisa cari tahu itu his palsu atau sungguhan. Kalau His yang sebenarnya, ibu harus dirawat dan diberik obat-obatan supaya tidak sampai melahirkan prematur," papar dr Gde.

Sementara itu, jika ada ibu hamil yang mengalami pusing lalu seperti akan pingsan, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah ada keluhan darah rendah, anemia, gangguan fungsi jantung atau pompa jantung. Mungkin bila kondisinya normal, hal itu dapat terjadi karena terlalu banyak aktivitas.

(rdn/vit)