"Ibu yang gembira dan sehat selama kehamilannya biasanya akan melahirkan bayi yang lebih mudah diasuh, tidak terlalu rewel, dan lebih ceria," ujar psikolog Henny Wirawan dari Universitas Tarumanagara, Jakarta, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (9/1/2015).
Sebaliknya, ibu yang selama kehamilannya menemui masalah berat dan tidak tertangani, lebih berpotensi melahirkan bayi yang ketika dalam pengasuhannya lebih rewel, gelisah, pencemas, sangat pendiam, atau bahkan mudah tantrum.
Dikatakan Henny, pada saat hamil seorang perempuan memang bisa saja mudah uring-uringan. Selain itu bisa pula mudah sedih dan kecewa. Itu semua tergantung dari apa yang dialaminya. Selain karena hormon yang berubah saat kehamilan, hal yang berpotensi mengganggu kondisi psikologis perempuan hamil biasanya ada di sekitar dia, termasuk relasi dan komunikasi dengan suami dan orang-orang di sekitarnya.
Tekanan pada ibu hamil makin berat jika dirinya memiliki masalah dan tanggung jawab besar, misalnya terkait masalah ekonomi keluarga, pengasuhan anak-anak yang lebih dulu lahir, dan sebagainya. Belum lagi jika mengalami kejadian tak terduga yang menimpa dirinya sendiri atau orang terdekatnya, misalnya kecelakaan atau bencana alam.
"Bila masalah tidak tertangani atau menjadi berlarut-larut barulah berpotensi mengganggu mood seorang ibu hamil. Dia bisa saja mengalami kondisi depresi, atau mengalami stres berat selama kehamilan," ucap Henny.
dr Hari Nugroho SpOG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUD dr Soetomo Surabaya sebelumnya juga mengatakan stres yang berlebihan meningkatkan horman stres. Peningkatan hormon stres ini mengakibatkan turunnya sistem kekebalan tubuh. Nah, turunnya sistem kekebalan tubuh pada hamil sangat mempengaruhi janin diantaranya adalah kejadian infeksi dalam rahim dan kehamilan prematur.
Bahkan, ada peneltian yang menyatakan bahwa stres yang terjadi pada ibu saat hamil dapat mengakibatkan gangguan perilaku, gangguan IQ dan emosi janin di kemudian hari.
Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU dr Soetomo, dr Ahmad Suryawan, Sp.A(K) juga menyebut ibu yang saat hamil mengalami stres ditambah defisiensi gizi dan berat badan rendah, bisa memberi dampak buruk jangka pendek pada janin dan anak di bawah usia 2 tahun. Dampaknya adalah perkembangan janin akan mempengaruhi ukuran dan komposisi tubuh atau organ, termasuk otak dan organ internal.
(vit/vit)