"Suami mempunyai peran penting. Sebaiknya suami siap untuk menjadi pendengar yang cukup sabar, terutama pada kehamilan pertama," ujar psikolog Maria, M.Psi, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Jumat (9/1/2015).
Akibat perubahan hormon dan tekanan yang dihadapi, ibu hamil memang rentan stres. Apalagi kondisi fisik ibu hamil berbeda dengan mereka yang tidak hamil. Misalnya saja ibu hamil jadi gampang lelah, karena itu hal-hal sepele terkadang membuat emosinya meletup. Namun jangan jadikan kehamilan sebagai pembenar untuk uring-uringan ya Bu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal ini dilakukan, sehingga ibu tidak akan merasa bahwa dia sendirian yang mengalami ketidaknyamanan tersebut," kata Maria.
Psikolog Debora Basaria menyarankan hal yang sama. Selain mendengarkan musik, ibu hamil juga bisa lebih rileks dengan berjalan-jalan atau melakukan olahraga khusus ibu hamil.
Selain itu menurut Debora jika ibu hamil mendapat istirahat cukup dan mengonsumsi makanan yang bergizi, bisa membantu mendapatkan mood yang baik. Orang-orang sekitar juga perlu membantu menghindarkan ibu hamil dari perasaan khawatir dan cemas.
"Keluarga juga dapat memberikan support dengan menciptakan kondisi yang kondusif selama Ibu menjalani kehamilannya," kata Debora.
Sementara menurut psikolog Henny Wirawan, ibu hamil perlu menyadari kapasitas dirinya. Jadi yang bersangkutan perlu menyadari sampai kapan sanggup bekerja dan tidak merasa kelelahan. Sebab lelah fisik bisa berdampak secara emosional, apalagi jika yang dialami adalah kelelahan psikis berkepanjangan.
"Dia perlu menyadari kapan dia membutuhkan bantuan dari orang lain, dan apa bentuk bantuan yang dibutuhkannya, serta siapa yang dapat menolongnya untuk menemukan bantuan atau memberikan bantuan kepadanya. Konseling dibutuhkan supaya dia dapat menenangkan diri, dan berpikiran lebih jernih. Jika masalahnya relatif berat, perlu psikoterapi supaya kondisi psikisnya dapat terpelihara," tutur Henny.
(vit/vit)











































