Tak Hamil-hamil Gara-gara Stres? Pil Ini Bisa Jadi Penawarnya

Tak Hamil-hamil Gara-gara Stres? Pil Ini Bisa Jadi Penawarnya

- detikHealth
Rabu, 14 Jan 2015 19:02 WIB
Tak Hamil-hamil Gara-gara Stres? Pil Ini Bisa Jadi Penawarnya
ilustrasi (Foto: thinkstock)
Berkeley, AS - Sudah bukan rahasia umum lagi bila stres bisa menurunkan peluang kehamilan seorang wanita. Metode kehamilan apapun yang dipakai jadi sia-sia saja karena terhalang oleh kondisi mental yang satu ini.

Beruntung baru-baru ini tim peneliti dari University of California, Berkeley menemukan solusi untuk masalah ini. Solusinya terletak pada sebuah hormon yang disebut RFRP3.

Bila jumlah hormon ini dapat dikurangi, maka efek stres pada wanita yang susah hamil tadi takkan lagi besar, bahkan bisa jadi stresnya akan hilang dan si pasien bisa memiliki keturunan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut peneliti, RFRP3 ini diproduksi di dalam seluruh otak manusia dan seluruh jenis hewan mamalia. Salah satu fungsi utamanya adalah untuk mematikan sistem reproduksi sebelum orang yang bersangkutan memasuki masa pubertas.

"Hormon ini diduga juga melindungi tubuh saat stres muncul. Jadi hormon ini menghentikan proses reproduksi ketika stres melanda karena ini bukanlah saat yang tepat bagi seorang wanita untuk memiliki keturunan, bahkan bisa dibilang berbahaya," terang peneliti Prof Daniela Kaufer seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (14/1/2015).

Peneliti pun telah menguji keberadaan hormon ini dengan mengamati sejumlah tikus betina. Sejumlah ekor tikus betina diletakkan di bawah tekanan selama beberapa jam di lab selama hampir tiga minggu. Kemudian peneliti mencoba mengawinkan mereka dengan pejantan.

Ternyata tikus betina yang tertekan atau stres kurang berminat melakukan reproduksi. Kalaupun pada akhirnya hamil, sebagian besar di antara mereka malah mengalami keguguran. Sayangnya, peluang kehamilan mereka tetap rendah, walaupun sudah tidak stres lagi.

Hal ini terlihat dari pengamatan peneliti beberapa hari setelah tikus betina yang stres ini dipulihkan. Rata-rata setelah diberi waktu pemulihan dari stres selama empat hari (sama dengan satu bulan untuk manusia), tingkat kehamilan tikus-tikus ini masih sama rendahnya dengan tikus lain yang masih stres.

"Dan ternyata kadar RFRP3-nya juga masih tinggi. Ini membuktikan bahwa stres memberikan dampak jangka panjang pada kesuburan. Namun ketika kami kurangi hormonnya, stres tak lagi mempengaruhi kesuburan mereka," simpul Prof Kaufer.

Karena temuan mereka masih sebatas efektif pada hewan, maka kini peneliti berupaya untuk mengembangkan obat dengan efek serupa. Hanya saja Prof Kauser menambahkan, untuk bisa hamil, mengonsumsi obat pereda stres saja kadang tidak cukup. Perubahan gaya hidup kiranya juga bisa membantu mengurangi stres yang dirasakan wanita.

Hal ini diamini Prof Geeta Nargund dari Create Fertility Clinic, London. Menurutnya, sebagian besar wanita modern merangkap dua pekerjaan sekaligus, sebagai pegawai juga ibu rumah tangga sehingga rentan mengalami stres.

"Bila ini tidak diubah, maka mereka akan terus begitu. Apalagi kehidupan modern juga sering mengakibatkan stres. Kalau tidak gaya hidupnya yang diubah, ya lingkungannya bila ingin bisa menghasilkan keturunan," paparnya.

(lil/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads