Senin, 09 Feb 2015 15:05 WIB

Usia Kehamilan Di atas 30 Minggu, Ibu Hamil Disarankan Tak Naik Pesawat

- detikHealth
Illustrasi: Thinkstock Illustrasi: Thinkstock
Jakarta - Perserikatan dokter Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) dari Inggris mengeluarkan pedoman terbaru untuk para wanita hamil yang ingin bepergian dengan pesawat. Sebelumnya wanita hamil kembar tidak disarankan terbang ketika kehamilan mencapai 34 minggu, tapi kini diubah menjadi 32 minggu.

Pedoman dikeluarkan agar selaras dengan rekomendasi dari Air Transport Association (IATA) namun diperlakukan untuk kehamilan yang berisiko rendah atau tanpa kondisi khusus. Jika sebagai contoh seorang wanita memiliki kondisi seperti anemia, penyakit jantung, paru, atau baru-baru ini mengalami pendarahan vagina maka tak disarankan sama sekali untuk terbang.

Kepala RCOG Philippa Marsden mengatakan rekomendasi dapat digunakan untuk penerbangan jarak jauh ataupun pendek. Bagi kehamilan normal batas aman terbang sampai usia kehamilan 37 minggu dan 32 minggu untuk kehamilan kembar.

Baca juga: Baru Turun dari Pesawat, Wanita Ini Melahirkan di Toilet Bandara

"Untuk memutuskan jadi terbang atau tidak seorang wanita harus memikirkan berapa minggu usia kandungannya, fasilitas kesehatan seperti apa yang ada di tempat tujuan, dan apakah terbang dapat memperparah risiko kesehatan yang sudah ada," papar Marsden seperti dikutip dari BBC pada Senin (9/2/2015).

Agar lebih aman, Marsden mengatakan penting bagi wanita hamil untuk berdiskusi dengan dokter atau bidan.

RCOG menambahkan tidak ada bukti bahwa terbang dapat membuat keguguran, mempercepat persalinan, atau memecahkan ketuban. Efek samping yang memang mungkin dirasakan di antaranya seperti kaki bengkak karena penumpukan cairan, masalah hidung dan telinga karena perbedaan tekanan udara, serta rasa mual yang lebih parah karena mabuk kendaraan.

Baca juga: Bepergian Naik Pesawat, Perlukah Ibu Hamil Gunakan Maternity Belt?

(vit/vit)